Berpolitik

Dalam sebuah ayat Allah berfirman: “Berapakah banyaknya kota yang telah kami membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta buta, ialah hati yang ada di dalam dada. (QS.22:46-47.
Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia seringkali menjauh dari ajaran Al-Quran. Sebagai Kitabullah yang diturunkan sebagai pedoman hidup, salah satu mukjizat Rasulullah ini, seringkali dianggap tidak up to date, kurang luwes dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Qur'an, sebagai fondasi Islam, dianggap tidak bisa menjawab tantangan zaman. Bahkan cenderung menjadi penghambat kemajuan di era moderen.
Anggapan ini lahir dari ketidakmampuan banyak individu di kalangan Islam  Mengapa? Karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup, karena tidak belajar atau belajar setengah-setengah tentang Islam dan pembicaraan Allah kepada mereka melalui ayat suci Nya. Akhirnya mereka terperangkap dalam persepsi orang lain, bahwa Al-Qur'an cukup disandingkan setara dengan Bible, karena tidak akan mampu menerjemahkan dunia moderen dan perkembangan setiap saat. 
Ayat yang dikutip di awal tadi merupakan warning—atas pengalaman terdahulu—bagi negara bangsa, serta komunitas lebih kecil di bawahnya, yang kemudian hancur – dihancurkan oleh Allah—karena menolak membangun peradabannya berdasarkan tuntunan agama yang haq. Mereka dihancurkan disebabkan gemar melakukan hal-hal bathil yang bertentangan dengan ajaran agama yang benar. Penyembahan berhala, menzalimi sesama, berbuat mungkar dan lainnya, sehingga peradaban mereka harus diakhiri.
Dalam sejarah, banyak peradaban yang kemudian musnah. Sejarah manusia merupakan catatan tentang jatuh bangunnya sebuah entitas. Siapa yang bisa menyangkal tentang keagungan peradaban Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Persia, dan lainnya. Juga kebesaran berbagai kekhalifahan Islam dan yang terakhir Turki Usmani. Siapa yang berani menyebutkan semua entitas itu hanyalah sesuatu yang kecil?
Al-Qur'an telah menukilkan dalam berbagai ayat tentang kebesaran mereka. Lalu kenapa, kok hancur?

Bila kita rajin menelaah satu demi satu ayat dalam Kitabullah yang membicarakan tentang bangsa-bangsa terdahulu, yang sukses membangun peradabannya dengan berbagai usaha yang sangat keras. Kemudian  mencapai kegemilangan dalam sejarah, Memiliki kekuatan militer yang tangguh, Ekonomi yang bagus,  Ilmu pengetahuan yang mumpuni di eranya. Lalu mengapa peradaban-peradaban itu hancur?

Keruntuhan sebuah peradaban bangsa di era lampau tidak bisa dipisahkan dengan keruntuhan fondasi moral dan hancurnya spiritual bangsa tersebut. Bagi sebuah bangsa, moral dan spiritual merupakan –bila diibaratkan—alas dan tiang dari sebuah kesuksesan. Moral sebagai alas dan spiritual sebagai tiang.
Peradaban besar yang kemudian kita tafsirkan sebagai kekuasaan yang besar pula, acapkali menjadi fitnah bagi manusia. Lamanya mereka berkuasa telah menyebabkan hati mereka membeku. Diawali dengan pencapaian gilang-gemilang, setelah mereka berada di puncak, timbul rasa nyaman dan berbangga diri atas hasil yang diraih. Inilah awal kehancuran. Anggapan bahwa sesuatu yang diraih itu merupakan kerja keras yang kemudian harus dinikmati dengan berbagai cara, telah menyebabkan mereka terjerumus pada hal-hal yang menggerogoti kegemilangan prestasi.
Mereka yang berkuasa, menerjemahkan kekuasaannya sebagai sebuah hal yang bisa menguasai apapun. Mereka mematikan sikap tenggang rasa. Manusia di bawahnya dianggap sebagai budak yang harus melayani. Sehingga harkat dan martabat manusia bisa diterjemahkan sesuka hati , yang bila dilawan oleh kekuatan moral, maka orang-orang yang bermoral, dianggap sebagai musuh yang harus dilenyapkan.
Sifat tamak akan kekuasaan, serta menganggap diri berada di level paling tinggi, telah menimbulkan kemudharatan bagi kehidupan manusia. Karena merasa berjasa, maka segala seuatu dilakukan dengan sesuka hati yang berlawanan dengan agama,  ilmu pengetahuan, dan etika.
Kekuatan oposisi yang mencoba mengingatkan penguasa, dihantam dan dibumihanguskan. Nyawa dan kehidupan tidak berharga sama sekali. Bahkan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah bila mereka yang berada di sikap yang berbeda, untuk diratakan dengan tanah, demi satu alasan: menjaga stabilitas dan menjaga semangat perjuangan.
Ini yang kemudian disebut bahwa, kala tiba pada kegemilangan peradaban, manusia  selalu ditandai dengan kontradiksi. Mereka terperangkap dalam daya kreatifnya.
Pada akhirnya manusia terjerumus melakukan berbagai tindak kejahatan dan kezaliman lainnya.
Pada kondisi ini, kegemilangan peradaban akan menjadi fitnah besar bagi sebuah komunitas. Ketika kaum moralis terpenjara—bungkam karena takut mati--, atau sebagian ikut menikmati maidah kekuasaan, dengan ikut melakukan pembungkaman terhadap mereka yang masih idealis. Kondisi ini kemudian telah mengantarkan sebuah peradaban menuju kehancuran. Bukankah Al-Qur'an sudah banyak menceritakan tentang itu?

AAN

Labels: