Zihar Sang Istri

Assalamualaikum
Saya mau tanyakan tentang ziar? Apakah itu? Dan saya tau dilakukan oleh laki-laki atau suami apakah istri juga bias zihar suami? Misalnya istri saya selalusamakan saya dengan ayahnya dan sebagainya. Terus apakah hokum zihar sama dengan talaq?
Terimakasih

Wassalamualaikum .......
Jawaban :
Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pertama:
Zihar dalam bahasa: punggung (berasal dari kata zahr)
Zihar dalam istilah : perkataan seorang suami kepada istrinya “kamu bagiku seperti punggung ibuku” atau dengan perkataan yang mirip dan dengan tujuan yang sama
Kemiripan punggung istri dengan ibu sang suami bukanlah kemiripan dalam bentuk lahiriyah akan tetapi disini kemiripan atau kesamaan yang dimaksudkan adalah sang suami mengharamkan dirinya untuk menggaul istrinya secara bathin sebegaimana haram baginya menggauli ibunya.
Kedua:
Zihar memang dilakukan oleh kaum Adam, zihar ini merupakan bagian dari talaq alias pemutusan hubungan pasangan suami istri.
Zihar diperuntukkan untuk kaum Adam sebagaimana talaq, artinya bila suami mengucapkan talaq kepada istrinya maka hokum talaq sudah berlaku dan dihitung talaq 1, sedangkan istri bila mengucapkan talaq walau seribu kali setiap harinya tidak akan diperhitungkan atau dianggap telah jatuh talak, karena otoritas istri bukanlah pada talaq. Sama halnya dengan zihar ini, bila diucapkan oleh istri seribu kali setiap hari tidak akan jatuh hukumnya, sedangkan bagi sang suami tentunya akan berbeda.
Perlu diketahui, bahwa zihar hanya akan jatuh hukumnya dengan dua perkara:
1. Diniatkan dalam hati; apabila seorang suami hanya mengungkapkan perasaannya terhadap tubuh istrinya yang merupai ibunya secara bentuh atau lahiriyah tanpa ada niat untuk menziharnya, maka zihar tidak jatuh, karena niat merupakan awal dari perhitungan segala amalan manusia.
2. Diucapkan; zihar merupakan sighah (ucapan) yang memang akan jatuh hukumnya bila diucapkan dan bukan disembunyikan.



Ketiga:
Hokum zihar adalah haram, berbeda dengan hokum talaq yang makruh. Sebagaimana tertera dalam ayat berikut:
Orang-orang yang menzihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mujadalah: 2)
Allah swt menerangkan bahwa hal tersebut adalah haram dan munkar, alias tidak disenangi atau sesuatu yang biadab.

Note: bila seorang suami melakukan zihar kepada istrinya dan ingin kembali berhubungan dengannya secara bathin, maka haruslah baginya untuk mengkaffarah, atau membayar hasil ulahnya itu, sebagai hukuman dari Allah atas kesombongannya, dalam ayat berikut kaffarah wajib dipenuhi oleh sang suami:
Orang-orang yang menzihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah: 3)

Dalam ayat ini, jelaslah bahwa hukuman Allah bagi hambaNya yang sombong ini, adalah sebagai berikut:
1. Membebaskan budak yang selamat dari `aib.
2. Puasa dua bulan berturut-turut.
3. Memberi makan 60 orang miskin dengan masing-masing sebanyak dua porsi makan.



Sekian, semoga bermanfaat. Walahu a’lam
Amirah Nahrawi

Labels: