Ekonomi Syariah Salah Satu Sarana Menuju Ridha Allah SwT

Oleh: Zarkasih
----
Tujuan hidup seorang muslim adalah menggapai ridha Allah SwT dan meraih keselamatan hidup di akhirat. Salah satu sarana untuk memperoleh keridhaan Allah tersebut dan menggapai keselamatan di akhirat adalah dengan harta yang halal dan kegiatan ekonomi. Jadi hakekat hubungan ini adalah hubungan antara sarana dan tujuan (al-washilah wal ghoyah). Sarananya adalah kegiatan ekonomi dan harta halal, tujuannya adalah ridha Allah SwT dan keselamatan di akhirat.


Oleh karena itu, segala macam kegiatan ekonomi menjadi hal yang sangat penting (dharuri) dalam kehidupan manusia guna menjaga akidahnya sendiri. Dengan demikian, kegiatan ekonomi bagi manusia bukanlah sesuatu yang sekunder, marginal, dan sambilan, tetapi menjadi kegiatan yang sangat penting.


Karena pentingnya ekonomi dalam menjaga akidah seorang muslim, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Hampir saja kefakiran itu mengakibatkan (mendekati) kekufuran,” (al-Hadits). Dengan melihat hadits tersebut kita dapat memberikan kesimpulan, betapa ekonomi dapat menjaga keimanan seseorang. Seperti membantu saudaranya yang sedang kesulitan, memberikan pendidikan yang layak bagi keturunannya, memberikan nafkah yang baik bagi anak dan istrinya, dan lain sebagainya. Karena ekonomi pula seseorang dapat menjadi kufur. Sering kita mendengar saudara kita yang muslim berpindah agama, karena perut mereka lapar, tidak memiliki sesuatu yang dapat dimakan. Karena iming-iming bisa makan setiap hari, lantas mereka mau berpindah agama. Na’udzubillah.


Imam al-Ghazali berkata dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, “Sesungguhnya maksud manusia adalah bertemu dengan Allah di akhirat, tiada jalan menuju pertemuan dengan Allah kecuali dengan ilmu dan amal. Kedua hal ini tidak dapat dicapai kecuali dengan keselamatan fisik. Keselamatan fisik tidak mungkin direalisasikan kecuali dengan makan dan minum sesuai dengan tuntutan kebutuhannya. Itulah sebabnya sebagian kaum salaf berpendapat bahwa makan dan minum adalah bagian penting dari agama seperti dinyatakan dalam al-Qur’an: “Makanlah (makanan) yang baik-baik dan beramallah dengan amal shaleh”. Barangsiapa makan untuk membantunya mencari ilmu dan beramal serta meningkatkan taqwa, maka janganlah ia membiarkan dirinya tidak terkontrol seperti binatang ternak yang sedang makan rerumputan. Karena apa yang menjadi wasilah bagi agama seyogyanya tampak juga cahaya agama padanya. Dan cahaya agama itu adalah adab-adab dan sunnah-sunnahnya...”


Menurut pandangan al-ghazali di atas, bahwa untuk mencapai keridhaan Allah SwT dan keselamatan di akhirat salah satu wasilahnya adalah kekuatan fisik. Fisik dapat menjadi kuat jika mengkonsumsi makanan yang baik dan halal. Maka, di sinilah pentingnya ekonomi bagi umat manusia, khususnya umat muslim. Meski demikian, al-Ghazali juga memberikan warning agar wasilah itu jangan sampai berlebihan. Dikhawatirkan jika wasilah itu berlebihan justru kita terlena dengan buaian dan keindahannya, sehingga yang kita kejar hanyalah wasilah (dalam hal ini harta) saja, tetapi melupakan tujuan sebenarnya untuk menggapai ridha Allah SwT. Al-Ghazali juga menasehati kita agar jangan sampai menjadi tergelincir menjadi homo economicus seperti yang menjadi dasar asumsi ekonomi konvensional.


Perlu diingat, bahwa ekonomi yang dimaksud untuk menggapai ridha Allah SwT adalah ekonomi yang sesuai dengan aturan Allah SwT dan aturan Rasulullah Saw. Ekonomi yang tidak keluar dari koridor yang Allah tetapkan. Sekarang ini kita mengenalnya dengan ekonomi syariah. Ekonomi syariah (ekonomi Islam) inilah yang sesuai dengan apa yang Allah inginkan dan apa yang telah Rasulullah sampaikan dalam sabdanya. Bukan ekonomi yang lain, yang berbasiskan ribawi yang jelas-jelas Allah SwT telah larang dalam al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 275).


Maka dari itu, mari kita laksanakan kegiatan ekonomi kita dengan menggunakan sistem yang sesuai dengan syariah. Yaitu, sistem yang telah Allah SwT atur dalam Al-Qur’an dan apa yang telah Rasulullah tetapkan dalam sabda-sabda beliau tentang ekonomi. Mudah-mudahan Allah memberikan ridha-Nya kepada kita yang senantiasa istiqomah dengan ekonomi syariah. Amiiin. Wallaahu a’lam. 


Sumber: pkesinteraktif.com


Labels: