Ijma'

Oleh: Amirah A. Nahrawi
----


ijma' menurut bahasa adalah: kehendak atau keinginan yang kuat. Sedangkan dalam istilah adalah kesepakatan para mujtahidin dari ummat Muhammad saw(setelah wafatnya) dalam suatu perkara pada suatu masa tertentu.

 

Dari pengertian diatas dapat dipetik bahwasanya kesepakatan dalam suatu perkara oleh para non mujtahidin tidak dapat dikategorikan ataupun disimpulkan sebagai ijma'.
 

Sebagaimana diketahui bahwasanya awal mula ijma' adalah pada masa sahabat dan khalifah pertama yaitu khalifah Abu Bakar ra.


Ijma' dapat dibagi dua bagian yaitu:


1. Ijma' secara terbuka dan terus terang: yaitu dimana para mujtahidin mengungkapkan pendapat secara terbuka mengenai perkara yang sedang didiskusikan.

2. Ijma' secara tertutup atau diam: yaitu ijma' dimana para mujtahidin tidak semuanya mengungkapkan pendapatnya mengenai masalah yang sedang dibahas, akan tetapi ada diantara mereka yang diam dan mempertahankan pendapatnya untuk dirinya sendiri.
 

Dalam ijma' kedua ini, terdapat perbedaan antara para ushuliin, dimana sebagian dari mereka tidak mengakui keabsahannya sebagai suatu keputusan hukum, karena diamnya sebagian mujtahidin dalam pembahasan suatu masalah tidak menunjukkan persetujuan mereka atas kesepakatan yang diambil dalam perkara tersebut. Diam bisa berarti tidak setuju akan tetapi enggan untuk berdebat, atau menyimpan pendapatnya bagi dirinya sendiri.

Dalam masalah kehujaan Ijma' sebagai sumber hukum Islam, maka Jumhur ulama mengakui ijma' sebagai salah satu sumber hukum, akan tetapi syi'ah dan khawarij tidak mengakuinya, dengan alasan bahwasanya bisa saja terjadi kesalahan dalam melakukan ijma' apabila dilakukan oleh seorang  oleh seorang mujtahid dan begitu pula bila dilakukan oleh sejumlah mujtahidin.

Sekian.

[al-wajiz fi usulil fiqhil Islami- Ahmad al-Najdi Zahw ]


Labels: ,