Awal mula penulisan hadits

Oleh: Amirah Nahrawi
---
Hadits sebagaimana diketahui, merupakan sumber hukum kedua dalam susunan sumber hukum Islam setelah al-Qur'an.

Hadits merupakan media yang sangat penting, dan menarik karena begitu banyaknya hadits yang ada dan telah rasulullah saw tinggalkan sebagai pegangan bagi ummatnya.
Para ahli hadits banyak banyak melakukan penyaringan kepada hadits-hadits yang berserakan, Para ahli hadits [Muhaditsin] mulai menyusun tingkatan-tingkatan hadits dimulai dari hadits shahih murni hingga yang dha'if dan mursal, bahkan hadits-hadits falsu tidak luput pula dari perhatian mereka agar kemurmian dan keabsahan sumber hukum kedua ini tetap terjaga sepanjang masa .
Kapankah hadits mulai ditulis?
pada hakekatnya hadits dimulai penulisannya pada masa rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan bahwasanya beliau saw berkata kepada 'abdullah bin 'Amru: tulislah..
Dan juga beliau memerintahkan para sahabatnya untuk menulis hadits-hadits beliau, dan diantara para penulis haditsnya yang dapat dikutip disini adalah:
1. Note 'ali: note ini ditulis oleh 'Ali bin Abi Thalib ra dimana dicantumkan tentang berbagai hal seperti perlakuan kepada para sandra, pembebasan serta fidyah. Dan tidak adanya qashash bagi pembunuh muslim yang membunuh seorang kafir.
2. Note kejujuran: note ini ditulis oleh 'Abdullah bin 'Amru bin al-'Aash yang mencantumkan didalamnya berbagai hukum, dan  menerangkan ayat-ayat mujmlalah dalam  alqur'an
3. Abu Bakar ra
4. Wael bin Hajar ra
5. 'Amru bin Jazm...dll.
Bahkan surat-surat beliau saw telah dinukilkan sebelum dikirim kepada para raja ketika mengajak mereka untuk memeluk agama Islam, layaknya surat beliau saw kepada al-Muqawqis raja Mesir, an-Najasyi raja Habasyah, Hirkules raja romawi dan Kasri raja Persia.
Selain itu, beliau telah memerintahkan sahabatnya pula untuk menukilkan perjanjian-perjanjian beliau dengan orang kafir dan orang yahudi seperti perjanjian al-Hudaibiyah, dst.
Para delegasi yang datang kepada beliaupun menulis segala ucapan dan hukum islam yang mereka terima darinya saw seperti delegasi Nashara Najran, dimana beliau mengutus bersama mereka seorang guru yaitu Abu 'Ubaidah dan delegasi 'Aamed, dan beliau mengutus pula seorang guru bersama mereka yaitu Ubay bin ka'b.
Tentunya ada sebab yang teramat penting dalam perintahnya saw kepada para sahabat agar menulis dan menukilkan sunnahnya, marilah kita tinjau beberapa sebab yang dikhawatirkan oleh beliau saw:
1/ Meluasnya daerah kaum muslimin sehingga dikhawatirkan akan tercemarnya sunnah yang murni dengan kemusyrikan.
2/ Sahabat rasulullah saw semakin sedikit dikarenakan peperangan, pepergian, menjadi utusan ke negeri lain dsb.
3/Maraknya adat yang menyalahi akidah, sehingga sunnah akan menjadi pembersih dan pemberantas bagi adat istiadat yang musyrik didaerah-daerah yang baru masuk Islam.
4/ Pengetahuan rasulullah saw [bersumber dari Allah swt] bahwasanya akan timbul beberapa golongan yang mendustakan dan memalsukan hadits demi kepentingan pribadi.
'Amru bin 'Abdul Aziz  adalah khalifah yang mencetuskan ide  pembukuan hadits, dikarenakan  banyak sahabat penghapal hadits menjadi utusan di berbagai negara. Beliau menuliskan surat kepada mereka agar menulis hadits-hadits yang mereka hapal dari rasulullah saw dan sahabat serta tabiin dengan sanad dan matan yang telah mereka terima dari perawi sebelumnya dengan sangat teliti dan jujur.
Makulah [perkataan] beliau yang terkenal yaitu: hendaklah kalian menulis sesungguhnya aku khawatir akan hilangnya ilmu dan ulama.
Sekian wallahu alam
[Ref. Usulul fiqhil islami, ahmad annajdi zahw, h.27]


Labels: ,