Musim Haji Telah Tiba

Oleh: Amirah A.Nahrawi
----
Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syariikalaka labbaik. Alhamdulillah kita sedang berada di bulan “jihad dalam ibadah”, Kembali lagi kumandang talbiyah bergema di musim haji kali ini.

Bulan dimana para hujjaj dari penjuru dunia sedang menjalankan ibadah haji. Ibadah yang sangat mulia dan penuh dengan perjuangan. Semoga Allah memberi kekuatan bagi mereka semua. Amin.


Setiap tahun, selalu terjadi peningkatan jumlah jamaah haji, hal ini tentunya menjadi kebanggaan bersama, sebab di tengah himpitan perekonomian, banyak dari saudara-saudara kita mampu keluar dari zona tersebut untuk tetap berangkat ke Tanah Suci. Selain itu, Kebanggaan tersendiri bagi ummat Islam yang kian hari kian meningkat diseluruh penjuru dunia.
Haji merupakan rukun Islam yang kelima, tentunya dengan rahmatNya hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sanggup melaksanakannya. Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah swt urat Ali Imran ayat 97:
“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi 
orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”.
Hal ini juga sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah saw dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim:
“Islam dibangun atas lima perkara, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke Baitullah dan menjalankan puasa Ramadhan”.
Sempurnalah pondasi bangunan keislaman seseorang manakala ia telah mampu menyempurnakan nilai ibadahnya dengan berangkat ke Baitullah Makkah. Oleh karenanya, ibadah yang sangat mulia tersebut hendaknya bisa dimaksimalkan demi mewujudkan keberkahan di sisi Allah SWT.
Menarik untuk diulas lebih jauh tentang makna ibadah bagi kehidupan manusia dan kaitannya dengan dimensi kemanusiaan sebagai makhluk yang paling sempurna dari makhluk lainnya. Di dalam sebuah kitab tafsir dijelaskan tentang dimensi ibadah yang ada pada rukun Islam.
1/ Perintah shalat (wa ‘aqimus shalat). Aqimu bermakna ibadah harian.
Ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt durasi waktunya harian, artinya umat Islam harus menunjukan ketaatan, kepatuhan dan kehambaannya kepada Allah swt di waktu-waktu tertentu. Sebuah pembuktian yang harus ditunjukkan sebagai konsistensi ber-Islam dengan patuh terhadap perintahNya.


2/ Perintah puasa (kutiba ‘alaikumusshiyam). Kutiba bermakna ibadah yang dilegislasi oleh Allah swt  dalam durasi tahunan. Ibadah yang menjadi pembuktian pada setiap tahun, apakah seorang hamba itu tetap konsisten terhadap ketaatannya, atau tidak
Oleh karena itu, ibadah puasa menjadi pembuktian selanjutnya akan eksistensi seorang manusia sebagai hamba Allah dan ibadah ini merupakan satu-satunya ibadah yang langsung dibalas olehNya
3/ Kewajiban melaksanakan haji bagi orang yang mampu (waatimmul Hajja wal ‘umrata lillaah). Waatimmu bermakna menyempurnakan. Yang selanjutnya ditafsirkan sebagai penyempurna ibadah harian dan ibadah tahunan sebagai ibadah yang diwajibkan bagi yang mampu sekali seumur hidup. Maka, ibadah haji di dalam rukun Islam terletak pada tempat yang terakhir.
Bila seseorang hendak berangkat haji haruslah meyakini bahwa potensi ibadah harian dan tahunannya telah baik. Atau minimal berniat agar kelak dengan melaksanakan ibadah haji ini, akan memberikan dampak positif terhadap kualitas ibadah harian dan ibadah tahunannya. Hal ini tentunya juga terkait dengan kepentingan apa yang dimiliki dalam melaksanakan ibadah tersebut.
Seseorang yang akan melaksanakan haji seyogyanya orang yang telah mantap jasadnya untuk melaksanakan haji, mantap ruhnya dan keyakinannya dalam mengerjakan haji, serta sempurna harta dengan tidak meninggalkan kemudharatan bagi keluarganya ketika berangkat haji. Dengan demikian, ibadah haji akan menjadi ibadah penyempurna dimensi kemanusiaan kita dari ibadah-ibadah lainnya.
Hal ini juga dipertegas dengan ayat Allah swt dalam Surat Al Baqarah ayat 196 :
“sempurnakanlah haji dan umrah itu karena Allah”. Pesan aktual ayat tersebut, bahwa ibadah haji adalah ibadah yang dilakukan untuk Allah, dan karena Allah semata.
Melaksanakan ibadah haji sebagai bagian dari penyempurna ibadah kita kepada Allah  swt tentunya memiliki beberapa dimensi. Yang pertama dimensi ritualitas kesejarahan. Berangkat haji ke Baitullah memiliki dimensi kesejarahan, kewajiban tawaf, sa’i, wukuf dan kewajiban lainnya. Memiliki dimensi kesejarahan.
Dalam ibadah ini pula terdapat ujian yang tidaklah mudah yaitu apakah haji hanya dimaknai dari bentuk seremoni saja, atau memang sebuah panggilan. Panggilan yang diperuntukkan kepada seorang hamba yang taat dan patuh untuk menyadari akan hakikat kehambaannya?
Jika kepergian seseorang  hanya dalam bentuk seremonial alias hanya mengharapkan   gelar haji, atau mungkin ingin dianggap sebagai orang yang 'mulia' maka jelas haji yang dilakukannya hanya bermakna seremonial saja.
Oleh karena itu, bagi para hujjaj, diharapkan memasang niat dengan baik, karena dengan niat itulah ia akan mendapatkan hasil dari pekerjaannya itu. Berniatlah bahwa apa yang kita lakukan semua hanya ikhlas kepada Allah, insya Allah, Allah akan membalas niat kita itu dengan predikat haji yang mabrur.
Sekian, Wallahu A'lam





















































































Labels: