Methode Al-Qur'an dan Hadits dalam menyaring Berita

Oleh: Amirah A.Nahrawi
-----
Al-Qur'an dan Hadits memiliki iksistensi kuat dalam menyaring dan meneliti kebenaran suatu berita, sehingga seorang mu'min sejati, tidak akan jatuh dalam lembah kenistaan dan kemakan oleh kabar-kabar yang beredar sehari-hari.
Dalam Surah al-Hujrat ayat 6 Allah swt berfirman :

يأيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على مافعلتم نادمين
Wahai orang-orang beriman, apabila engkau dihadang dengan suatu berita dari seseorang fasiq [tidak mengetahui kebenarannya] maka hendaklah kalian meneliti kebenaran berita tersebut, supaya kalian tidak menzalimi suatu kaum dengan ketidak arifan kalian, sehingga kalian menyesali perbuatan kalian sendiri. 
Allah swt menegaskan bagi orang-orang beriman, agar janganlah termakan berita yang bersumber dari seseorang fasiq ataupun yang belum diketahui kebenaran dari berita tersebut.
Bukan hanya dalam masalah sehari-hari seseorang harus meneliti dan menyaring segala sesuatu yang menghadangnya, akan tetapi dalam masalah urusan agamapun hendaknya  lebih meneliti kebenaran ucapan, taqrir atau fatwa seseorang, supaya terhindar dari lembah kenistaan dan kegelapan yang dapat menimpa bila mempercayai dan mengikuti berita-berita apapun yang sampai kepadanya, terlebih lagi bila menyampaikannya kepada orang lain.
Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas, bahwasanya berita yang datang kepada kita [terlebih lagi bila bersumber dari seorang fasik] hendaklah diteliti kebenarannya.
Imam Muslim berkata: ayat diatas menerangkan bahwa berita yang disampaikan oleh seorang fasik adalah berita yang seharusnya ditolak dan tidak didengarkan.
Rasulullah saw bersabda:

كفى بالمرء كذبا ان يحدث بكل مايسمع
Cukuplah kebohongan yang dilakukan seseorang dengan menyampaikan segala berita yang didengarnya [tanpa meneliti ataupun menyaring kebenarannya] (Muslim Juz 1 / 10)
Hadits ini, menerangkan bahayanya orang yang selalu menyampaikan berita yang didengarkannya apa adanya tanpa faktor-faktor pendukungnya yaitu pengamatan dan penyaringan akan kebenaran yang disampaikannya itu kepada orang lain.
Tentunya hal ini, menjadi pegangan utama bagi ummat Islam khususnya bagi orang-orang yang  sering bahkan hobi menonton acara gosip pada pagi, siang dan sore hari.
Bukankah acara-acara demikian merupakan suatu tindakan yang melecehkan kehormatan dan privasi seseorang?  membuka aurat rumah tangga seseorang ibarat menelanjangkannya dihadapan ummat? terlebih lagi bahwa segala berita yang disampaikan melalui acara-acara infotaiment tersebut bukanlah merupakan berita yang sudah terbukti keabsahannya dan kebenarannya?
Sudikah masalah-masalah dan privasi anda dipertontonkan orang banyak? diketahui dan dibicarakan orang banyak? Tentunya tidak bukan?
Rasulullah saw menjelaskan dalam hadits shalihnya :

من ستر مؤمنا فى الدنيا ستره الله يوم القيامة

Barang siapa yang menutup aurat [masalah, keburukan dan privasi] seseorang didunia, maka Allah swt akan menutup auratnya [keburukan dan kejahatannya] pada hari kiamat.
Wahai para wanita muslimah, dan para lelaki muslim , teramat banyak berita-berita yang beredar sekitar kita setiap menit bahkan setiap detik, akanlah kita terpancing dan mengikuti berkembangannya atau akankah kita berpaling dan meninggalkannya kepada Yang Naha Mengetahui serta menutupinya [bila tidak mengetahui sumber dan keabsahannya]. Wahai kaum muslimin, mendengar dan memperhatikan keburukan, aib, dan membuka tirai rumah tangga seseorang begitu kecil dan tidak berarti bagi kita, akan tetapi sungguh besar dan amat dibenci oleh Allah swt.

Wahai saudara-saudaraku, jagalah keluarga anda dan tutupilah aurat keluarga orang lain, niscaya Allah akan menutup segala keburukan anda dan keluarga anda dari mata dan telinga orang lain didunia dan akhirat insya allah.
Sekian. Wallahu A'lam








Labels: