Kritik kepada Para Ustadz

Oleh Mohammad Andri Budiman

BismilLahirRahmanirRahim
Assalamu'alaikum wa rahmatulLahi wa barakatuh,

Untuk Para "Ustadz" yang saya sayangi,
Ada sedikit kritik saya pada Anda, para "ustadz" (baca: bukan ustadz beneran):

Zaman sekarang ada perseorangan maupun sekelompok orang yang
meng-haram-kan sesuatu yang di-halal-kan Allah swt, sementara kalau
diajak berkomentar tentang "korupsi untuk bisa naik haji ONH Plus",
malah diam, dan/atau menyuruh tutup mulut dan "jagalah hati", yang
korupsi biarlah korupsi biarlah Allah swt yang "mengotori tangan-Nya"
memberantasnya dan kita para "ustadz" (nan palsu ini) biar bisa ikut
umrah bersama penjabat korup hitung-hitung nanti pulang disuruh ceramah
di "baiti naari"-nya yang ber-AC dan "urusan dagang bakso lainnya" pun
(bisa ditebak) akan lancar. Dan mudah. Semuanya lilLahi penjabat Ta'ala.

***

Di Sumut, ada yang "ustadz" (baca: ustadz palsu atau ulama su') beginian.

Di-umrah-kan penjabat korup, pulangnya berdakwah "yang baik-baik saja."
Surge mulu, nerake itu tak ade - seperti kata Neale Donald Walsch dalam
buku "Conversations with God", a trilogy for the Christians, yang
menanggap bahwa mana bisa ada neraka wong dosa sudah ditebus oleh Yesus,
tak iye.

Yang penting koruptor manapun jangan lupa surah Az-Zumar 53: "janganlah
(koruptor sejahanam apapun) berputus asa dari rahmat-Nya"

Jadi, dengan shalat seratus ribu kali pahala (asal tidak dikali nol oleh
"oknum malaikat" tertentu) di "masjidil halal", maka "insya 'Ustadz'",
uang haram untuk umrah Ramadhan bukanlah menjadi "sesuatu dan lain hal."

Awak yang bodoh ni bukan pulak mau menghalangi para koruptor dari rahmat
yang akan diberikan (di neraka) nanti, tapi ingin bilang yang korup itu
salah, dan Allah swt itu baik dan cuma menerima amal yang baik-baik dari
usaha yang baik-baik.

Surga neraka. Hitam putih. Bukan fuzzy logic. Sekalipun di surga dan
neraka nanti bakal ada nikmat yang lebih besar untuk para nabi, syuhada,
dan waliyulLah ketimbang orang khawas dan awam, namun kayaknya nggak ada
nikmat yang nol, alias satu kaki nginjak surga satu kaki nginjak tempat
yang satunya. Kecuali, tentu saja, kun, fayakun.

Bagaimana dengan "ustadz" (sekali lagi, baca: bukan ustadz bener) di
Jakarta? Saya tidak mau komen lah, wong ada yang sering muncul di
tipi-tipi sewaktu diminta ceramah ke Medan minta bayaran 40 juta.
Iki opo tumon? Harus bayar "tim kreatif" dan keluarga besarnya?

Saya jadi sulit membedakan mana "ustadz" kondang dengan artis kondang
sekarang ini. Kalau "ustadz ghairu kondang," ya lain dah ceritanya. :-)
Btw, saya mohon maaf kepada sahabat-sahabat  yang sudah
menerima saya yang suka bikin ulah di mana pun. Ya,
begitulah BTL (Batak Tembak Langsung:-) ...maaf..maaf...

O ya terimakasih juga bila kiriman saya ini dibuplikasikan ya bu.
Wassalamu'alaikum wr. wb.,

Mohammad Andri Budiman

Allahu a'lam

La haula wa la quwwata illa bilLah

Wassalamu'alaikum wa rahmatulLahi wa barakatuh,

Terimakasih kepada Bpk. Moh. Andri Budiman

Labels: