Khadijah binti Khuwailid ~ Nahrawi Center

Khadijah binti Khuwailid ~ Nahrawi Center

Oleh: Amirah AN
------
Rasulullah saw bersabda :
1/ "Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran. Sebaik-baik wanita ialah Khadijah binti Khuwailid. (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib radiyallahu 'anhu).

2/ "Dan sebaik -baik wanita dalam masanya adalah Khadijah”

Dialah Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah saw yang pertama. Ia lahir pada tahun 68 sebelum Hijrah. Hidup dan tumbuh serta berkembang dalam suasana keluarga yang terhormat dan terpandang, berakhlak mulia, terpuji, berkemauan tinggi, serta mempunyai akal yang suci, sehingga pada zaman jahiliyah diberi gelar “Ath-Thahirah”.


Khadijah adalah wanita kaya yang hidup dari usaha perniagaan. Dan untuk menjalankan perniagaannya itu ia memiliki beberapa tenaga laki-laki, diantaranya adalah Muhammad saw (sebelum beliau menjadi suaminya).

Khadijah adalah wanita janda yang telah menikah dua kali. Pertama ia menikah dengan Zurarah At-Tamimi dan yang kedua menikah dengan Atid bin Abid Al-Makhzumi. Dan masing-masing wafat dengan meninggalkan seorang putera.

Pada masa jandanya, banyak tokoh Quraisy yang ingin mempersuntingnya. Namun ia selalu menolaknya. Dibalik semua itu, Allah swt telah mempersiapkan Khadijah binti khuwailid untuk menjadi pendamping Rasul-Nya yang terakhir, yakni Muhammad bin Abdullah saw. Untuk pembela dan penolong risalah yang beliau sampaikan.

Pada usianya yang ke empat puluh, beliau menikah dengan Nabi Muhammad saw, pada waktu itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diangkat menjadi rasul dan baru berusia 25 tahun.

Perbedaan usia tidaklah menjadi masalah bagi rumah tangga Rasulullah saw, bahkan Rasulullah saw pada waktu membentuk rumah tangga dengannya tidak mempunyai isteri yang lainnya.

Dari hasil pernikahan itu, beliau saw dikaruniai beberapa putera oleh yaitu al-Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Namun putera beliau yang laki-laki meninggal dunia sebelum dewasa.

Suatu hari Khadijah mendapatkan suaminya pulang dalam keadaan gemetaran. Terpancar dari raut wajahnya kekhawatiran dan ketakutan yang sangat besar.

“Selimuti aku!…., Selimuti aku!…, “ seru Rasulullah saw kepada isterinya. Melihat kondisi yang seperti itu, tidaklah membuat Khodijah panik. Iapun langsung menyelimuti dan mencoba untuk menenangkan perasaan suaminya.
Setelah tenang, Rasulullah saw menceritakan pada istrinya, tanpa disadarinya Khadijah mengetahui dan menyadari bahwa suaminya adalah utusan Allah swt . Dengan tenang Khadijah berkata : ”Wahai putera pamanku, Demi Allah, Dia [Allah] tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sesungguhnya engkau termasuk orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, berkata benar, serta selalu bertanggung jawab, menghormati dan suka menolong orang lain”.Kata-kata yang begitu manis dari sang istri membuar beliau lebih percaya diri dan tenang.

Diawal permulaan Islam, peranan Khadijah tidaklah sedikit. Dengan setia ia menemani suaminya dalam menyampaikan Risalah yang diemban. Khadijah menjadi wanita pertama yang beriman kepada Allah ketika Rasulullah saw mengajaknya menuju jalan Allah.
Dia yang membantu Rasulullah saw dalam mengibarkan bendera Islam. bersama suaminya ia berda'wah, berjihad dan berjuang, mengorbankan harta, jiwa, dan berani menentang kejahilan kaumnya.

Khadijah seorang yang senantiasa menentramkan dan menghibur Rasul saw disaat kaumnya mendustakan risalah yang dibawanya. Iapun merupakan pendorong utama bagi Rasulullah saw untuk selalu giat berda’wah, bersemangat dan tidak pantang menyerah. Ia juga selalu berusaha meringankan beban berat suaminya.
Rasulullah saw memuji Khadijah dihadapan para istri-istrinya dengan berkata: “Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkari risalahku. Ia membenarkanku disaat orang mendustakan. Dan ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang menolakku ”. (HR. Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar)

Kebijakan, kesetiaan dan berbagai kebaikan Khadijah tidak pernah lepas dari ingatan Nabi saw. Bahkan sampai Khadijah meninggal. Ia benar-benar seorang istri yang mendapat tempat tersendiri dihati Rasulullah saw. Betapa kasih beliau kepada Khadijah, dapat kita simak dari ucapan ‘Aisyah [ yang kerap kali cemburu kepadanya]. “Belum pernah aku cemburu terhadap istri-istri Nabi saw sebagaimana cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Nabi saw selalu menyebut-nyebut namanya, bahkan adakalanya menyembelih kambing dan dibagikannya kepada kawan-kawan Khadijah. Bahkan pernah saya tegur, seakan-akan di dunia tidak ada wanita selain Khadijah, lalu Nabi menyebut beberapa kebaikan Khadijah, dia dahulu begini dan begitu, selain itu, aku mendapat anak daripadanya.”

Khadijah binti Khuwailid, wafat tiga tahun sebelum hijrah dalam usia 65 tahun. Kepergiaannya mengukir kesedihan yang sangat mendalam di hati suaminya saw maupun umat Islam. Ia pergi menghadap TuhanNya dengan meninggalkan banyak kebaikan yang tak terlupakan.

Itulah Khadijah binti Khuwailid, yang Allah pernah menyampaikan peghormatan (salam) kepadanya dan Allah janjikan untuknya sebuah rumah di Surga. Sebagaimana telah disebut dalam hadits dari Abu Hurairah: “Jibril datang kepada Nabi saw dan berkata: “Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepada engkau dengan membawa bejana berisi lauk pauk atau makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan juga dariku dan kabarkanlah berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu).

Wahai Saudariku.... sudah mencapaikah kita 10% dari cinta, kebaikan, ketulusan, dan kehormatan yang telah Khadijah ra dapatkan dihati suaminya ataupun disisi tuhanNya?
Semoga tauladan ini dapat mengingatkan kita akan indahnya menjadi seorang istri yang mencintai dan dicintai, menghormati dan dihormati, meninggalkan jejak kebaikan dan bukan jejak keburukan.
Sekian, Wallahu A'lam


Labels: