kecerdasan dan Kesabaran



Oleh: Amirah A. Nahrawi

Kecerdasan merupakan ciri keunggulan manusia dalam memahami , memutuskan dan mengantisipasi. Kecerdaasan seseorang sering tidak dapat difahami seketika oleh kebanyakan orang, tetapi kemudian menjadi kajian yang tak habis-habisnya setelah menjadi sejarah.
Dalam perspektip ini jarak antara orang cerdas dengan orang gila sebenarnya sangat tipis, sehingga gagasan-gagasan orang cerdas sering dianggap gagasan gila. Kecerdasan seseorang memungkinkannya memiliki jarak pandang yang jauh, dua, tiga atau lebih dimensi, sementara orang kebanyakan hanya mampu melihat satu atau maksimal dua dimensi.
Pada umumnya kecerdasan dihubungkan dengan akal (intelektuial, tetapi kecerdasan intelektual ternyata belum menjamin ketepataan keputusan, sehingga dewasa ini orang sudah mulai membicarakan tentang kecerdasan yang lain, yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasaan spiritual.
Kecerdasan intelektuil diwujudkan dalam kemampuan berfikir. Menurut Asfihani, fikiran adalah potensi yang dapat mengantar pengetahuan sampai kepada obyek (quwwatun mudrikatun li al `ilmi ila al ma`lum), sedangkan berfikir artinya menggunakan potensi itu sesuai dengan kapasitas intelektualnya.

Dalam kehidupan kita, berfikir diperlukan untuk bermacam keadaan seperti:
1/ Memecahkan masalah yang kita hadapi ataupun yang orang lain hadapi (problem solving)
2/ Mengambil keputusan (decision making)
3/ Berani Melahirkan sesuatu yang baru (kreatifitas).

Karena kecerdasan merupakan keunggulan maka hal itu dapat diukur kualitasnya, antara lain melaui metode yang digunakan (deduksi,induksi), atau dilihat seberapa tingkat kreatifitasnya (metode berfikir kreatif). Metode berfikir kreatif sering tidak bisa difahami orang lain, dan prosesnya melalui tahapan-tahapan, mulai dari  orientasi,  Preparasi,  Inkubasi, Iluminasi hingga Verifikasi. Orang yang bisa berfikir kreatif biasanya memiliki beberapa  ciri-ciri yang sedikit melebihi orang kebanyakan pada umumnya yaitu:
1/ Memiliki kecerdasan diatas rata-rata
2/ Kepribadian yang terbuka
3/  Bebas, otonom dan percaya diri.

Jika kecerdasan intelektual diwujudkan dalam berfikir, maka kecerdasan emosi diwujudkan dalam merasa. Manusia memang makhluk yang berfikir dan merasa. Emosi nampak dalam perubahan fisik yang diakibatkan oleh peristiwa mental, seperti : muka merah (karena malu), muka pucat, tubuh gemetar, otot mengencang (karena marah) ,mata terpejam dan menangis (karena haru atau gembira) dan sebagainya. Emosi adalah perubahan jasmani langsung mengikuti persepsi mengenai kenyataan yang menggairahkan.

Jika kecerdasan intelektual bisa diasah, demikian juga kecerdasan emosi dapat dirangsang. Kecerdasan emosi ditandai dengan kemampuan pengendalian emosi ketika menghadapi kenyataan yang menggairahkan (menyenangkan, menakutkan, menjengkelkan, memilukan dsb). Kemampuan pengendalian emosi itulah yang disebut sabar, atau sabar merupakan kunci kecerdasan emosional.

Adapun kecerdasan spiritual merupakan kualitas kehidupan rohani seseorang, dimana seseorang dimungkinkan berkomunikasi secara rohaniah, baik secara horizontal maupun vertikal. Memahami kecerdasan spiritual akan mudah jika menggunakan paradigma tasauf.  Pengertian sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan.
Dalam agama, sabar merupakan satu diantara level-level (maqamat) agama, dan satu anak tangga dari tangga seorang hamba shaleh dalam upayanya mendekatkan diri kepada Allah. swt.
Patut kiranya disebutkan bahwa  maqamat agama terdiri dari :
1/ Pengetahuan (ma`arif) yang dapat umpamakan sebagai pohon,
2/ Sikap (ahwal) yang dapat umpamakan sebagai cabang dari pohon diatas
3/ Perbuatan (amal) yang dapat umpamakan sebagai buah yang dihasilkan pohon.

Seseorang bisa bersabar jika dalam dirinya sudah tertanam ketiga hal itu. Sabar bisa bersifat fisik, bisa juga bersifat psikis. Karena sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, maka nama sabar berbeda-beda tergantung obyeknya.

1/ Ketabahan menghadaapi musibah
2/ Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat dan mampu menahan diri
3/ Kesabaran dalam peperangan disebut pemberani
4/ Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm)
5/ Sabar dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut lapang dada,
6/ Sabar dalam mendengar gossip disebut mampu menyembunyyikan rahasia
7/ Sabar terhadap kemewahan disebut zuhud.
8. Sabar dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana`ah).


Rangking Sabar


Ada tiga tingkatan orang sabar :

1/ Orang yang dapat menekan habis hawa nafsu hingga tidak ada perlawanan sedikitppun, dan orang itu bersabar secara konstan. orang sabar seperti itu adalah orang yang telah mencapai tinggkat  shiddiqin.
2/ Orang yang tunduk total kepada dorongan hawa nafsunya sehingga motivasi agama sama sekali tidak dapat muncul. Mereka termasuk kategori orang-orang yang lalai (al ghafilun).

3/ Orang yang senantiasa dalam konflik antara dorongan hawa nafsu dengan dorongan agama. Mereka adalah orang yang mencampuradukkan kebenaran dengan kesalahan.



Tetapi sabar juga ada batasnya, oleh karena itu kesabaran harus selalu dievaluasi secara dinamis. Kesabaran juga biasanya berhubungan erat dengan perasaan syukur. Artinya orang yang pandai berterima kasih biasanya ia penyabar, sedangkan orang yang tidak mengerti berterima kasih (kufr ni`mat) biasanya emosinya mudah digelitik.

Dalam usaha problem solving menyangkut berbagai urusan kehidupan, sabar merupakan kekuatan yang sangat besar dan efektif. Oleh karena itu al Qur’an secara jelas mengingatkan agar dalam upaya memohon pertolongan kepada Tuhan, jangan lupa membangun infrastruktur psikologinya yang terdiri dari kesabaran dan doa sesuai dengan firman Allah swt Surah al-Baqarah # 153:
ياأيها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة إن الله مع الصابرين


Labels: