Eksistensi Ikhlas

Oleh : Ahmad Dahlan Al-Fial Zain
---
Ikhlas dalam pengertian umum adalah suci. Kata ini bila dikaitkan dengan term agama Islam mempunyai pemahaman khusus, yaitu : Berbuat karena Allah semata. Ikhlas dalam pemahaman khusus seperti ini, menggambarkan keadaan pelakunya mengikuti Allah, dalam pengertian memahami, mentaati dan melaksanakan seluruh ajaran-Nya.
Ajaran Allah tertuang dalam al-Qur'an tetapi Hadits dapat juga dikatakan dimensi ajaran-Nya. Jika demikian adanya, term ikhlas dalam konteks muamalat bila dikaitkan dengan misalnya Hadits, "al-Yad al-'ulya khair min al-yad al-sufla" yang menurut pemahaman takwil saya Hadits ini merekomendasikan suatu ajaran : Agar umat Islam untuk berlaku kreatif, maka ikhlas mempunyai pengertian khusus tambahan, yaitu : Ikhlas adalah perbuatan karena Allah semata yang berindikasi kreativitas kerja yang inovatif.
Terkait dengan premis pertama pilihan saya tadi bahwa Ikhlas adalah suatu suasana hati dan suasana laku mengikuti seluruh ajaran Allah, maka term ikhlas kecuali dikaitkan dengan Hadits sebagai tersebut, mutlak untuk dikaitkan pula dengan ajaran Allah yang lain, terutama dengan ajaran yang terhitung primer, yaitu : Memelihara jiwa.
Dalam pada itu, seorang ikhlas dapat dikatakan mempunyai indikasi : Bekerja dengan muatan kreativitas dan karya inovatif. Sebagai diketahui, untuk sampai pada tahap kreatif dan inovetif dalam suatu pekerjaan atau kegiatan memerlukan energi yang tidak sedikit, terutama energi waktu. Bila energi waktu adalah yang paling dominan pada terbagunnya suatu kreativitas dan karya inovatif, maka seorang yang ikhlas dalam bekerja harus dapat secara simultan memperhatikan aspek kebutuhan primernya yaitu mempertahankan hidup yang merupakan ajaran memelihara jiwa.
Pertanyaannya adalah, dapatkah konklus ini dipraktekkan ? Bagaimanakah kiranya, jika suatu kreativitas dan karya inovatif sebagai suatu indikator ikhlas tidak memberi kontribusi pada pelaksanaan ajaran memelihara jiwa. Menurut hemat saya, suatu perbuatan ikhlas yang bermuatan nilai implementasi Hadits “al-yad al-'ulya khair min al yad al-sufla”(berbuat kreatif dan inovatif yang tidak berkorelasi dengan reward, sebagi perlindungan hidup) menjadi suatu fenomena kepicikan. Karena di satu sisi ikhlas seperti itu adalah merupakan pelaksanakan ajaran Nabi tetapi di sisi lain sebenarnya tidak mengimplementasikan ajaran agama yang lain yang bahkan merupakan ajaran primer (memelihara jiwa/perlindungan hidup).
Menurut saya, ikhlas kayaknya tidak akan pernah ada. Kreativitas dan karya inovatif sebagai dimensi ikhlas secara alami akan hilang bahkan tidak akan pernah muncul sepanjang aspek memelihara jiwa yang juga merupakan naluri manusia tidak terbangun oleh fenomena ikhlas. Seorang yang ikhlas, bekerja penuh kreativitas dan inovatif tidak salah jika ia harus meninggalkan tempat kerjanya yang di situ ia berkreativitas dan berinovasi tidak ada kontribusi bagi terlaksanya pemeliharaan jiwa. Oleh kreativitas dan karya inovatifnya ia dan keluarganaya menjadi orang miskin yang kurang gizi, tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada jaminan pendidikan, tidak mendapat kepastian masa depan dan tidak lazim hidup baik, karena tidak ada yang menjaminnya untuk mendapat perlindungan kebutuhan hidup kecuali surga di akherat. Padahal kehidupan akherat harus dikejar seiring dengan penciptaan kehidupan dunia yang baik.
Tesis ini menerangkan bahwa ikhlas dapat eksis tidak oleh personaliti tetapi membutuhkan pihak kedua yang mampu memberikan apresiasi terhadap seorang yang ikhlas. Orang bekerja tanpa kretivitas dan karya inovatif lagi nerimo, bukanlah orang ikhlas. Di sisi lain, sebut saja, seorang pimpinan atau bos yang mengetahui anak buahnya/pegawainya rajin, penuh kreativitas dan karya inovatif tetapi tidak memperhatikan kesejahteraannya, maka ia adalah seorang penghalang bagi eksisnya seorang ikhlas.
Harapan dan ajakan saya, agar seorang yang berposisi sebagai pemilik atau pimpinan suatu institusi atau posisi apa saja yang padanya orang bergantung, hendaknya menjadi wakil Tuhan, menjadi kepanjangan tangan-Nya sebagai rahman dalam bentuk kesalihan sosial.




Labels: