Qiyas Terlahir di Masa Sahabat Bukan di Masa Nabi (Suatu Pernyataan Kesefahaman dengan Amirah Ahmad Atas Lahirnya Qiyas)


Oleh : Ahmad Dahlan Al-Fial Zain

Saya termasuk yg menerima qiyas, tetapi saya ada sedikit kegelisahan sehubungan kehujjahan qiyas atau dasar hukum qiyas yang bersumber dari Hadits yang sejauh ini dipegang oleh banyak ulama di antaranya Imam Syafi’i, mempunyai pemahaman tekstual yang sepertinya bertentangan dengan al-Qur'an. sebagai yang saya ketahui dasar hukum qiyas dari Hadits Nabi adalah Hadits yang sangat pupuler yaitu mengenai Haji Badal. Bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya oleh seorang wanita yang ibunya telah berjanji untuk naik haji tetapi sebelum terlaksana janjinya tersebut sang ibu meninggal dunia. Lalu wanita itu menyampaikan kisah ibunya kepada Rasulullah. Beliau bertanya :"Apa yang harus ditunaikan oleh seseorang apabila salah satu anggota keluarganya meninggal dunia ?" Jawab wanita itu : "Membayarkan hutang-hutangnya." Komentar Rasulullah : "Hutang orang yang meninggal terhadap manusia saja harus dibayarkan, apalagi hutangnya kepada Allah."
Dalam kisah ini Rasulullah melakukan analogi antara penunaian hutang kepada Allah dengan kewajiban penunaian hutang kepada sesama oleh ahli waris.
Pertanyaan saya adalah bukankah setiap orang itu bergantung pada apa yang diperbuatnya masing-masing dan tidak ada beban dosa orang lain kecuali beban dosa diri sendiri. Dalam pengertian lain, bukankah hutang yang harus dibayarkan bagi orang yang meninggal itu hanya hutang yang terkait dengan muamalah ? Orang yang telah meninggal itu tidak ada beban dosa pada orang yang masih hidup atau orang lain, seiring dengan firman Allah : " Laa taziru waaziratu wizra ukhraa." atau firman Allah yang lain : "Wa an laisa lil insaan illaa maa sa'aa." Selain itu menurut Hadits, orang yang telah meninggal kewajiban amal duniawinya telah tidak ada kecuali apa yang telah dilakukan saat hidupnya.
Akan tetapi kendatipun Hadits ini secara tersurat bertentangan dengan al-Qur’an namun para ulama hukum Islam yang menerima qiyas tatap menggunakannya sebagai dasar hukum qiyas. Padahal dasar hukum qiyas dari al-Qur’an sangat interpretebel, tidak eksplisit.
Terlepas dari itu saya tetap menerima qiyas, toh dasar hukumnya bisa sangat cukup walaupun hanya dari al-Qur'an. Dalam pada itu secara fungsi qiyas bisa memberikan jawaban hukum atas kasus baru yang belum ada keterangan eksplisit dalam nash. Dan oleh qiyas syaria’at Islam menjadi eksis sepanjang zaman, tidak ada kekosongan hukum Islam atas setiap apapun perbuatan manusia.
Dalam konteks tulisan saudari Amirah Ahmad, saya terkejut ketika ia katakan bahwa metode qiyas muncul dalam tradisi intelektual masa sahabat. Padahal terdapat Hadits walaupun dha’if yang menceriterakan suasana kebijakan pikir hukum model Rasulullah sebagai yang disebut di atas yang berdimensi qiyas. Artinya bahwa qiyas sebetulnya telah hadir di masa Rasulullah dan dilakukan oleh beliau secara langsung.
Kendati demikian, saya setuju atas apa yang disampaikan saudari Amirah Ahmad bahwa qiyas terlahir di masa sahabat bukan di masa Rasulullah. Sebab apabila qiyas diopinikan bahwa ia terlahir di masa Rasulullah, maka qiyas mendapat kelemahan atas kehujjahannya sehubungan Hadits bermuatan praktek qiyas adalah dha’if.
Elok kiranya jika kita opinikan bahwa metode qiyas dalam ijtihad terlahir pada masa sahabat seperti yang diutarakan saudari Amirah Ahmad. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah apa dasar hukum dari Hadits yang digunakan para sahabat atas pemakaian qiyas dalam ijtihad.

* Qiyas adalah deduksi analogi, yaitu salah satu metode istinbat hukum jalur ma’nawi yang prinsip prosedur berfikir hukumnya adalah mengukur atau menyamakan antara suatu fenomena perbuatan hukum yang tidak terdapat keterangan nash dengan suatu fenomena perbuatan hukum yang ada  nash-nya karena ada kesamaan illat.
 
Terimakasih kepada bpk Ahmad dahlan atas opininya dan partisipasinya 

Labels: