Khitbah


Oleh: Amirah Nahrawi 
---------------------------------

Allah SWT menjelaskan dalam FirmanNya:


Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).


Dan Rasulullah SAW telah menerangkan tentang tata cara dan peraturan dalam melaksanakan dan menjalankan khitbah serta anjuran tuk menikah dalam islam.. diantaranya hadits beliau SAW:




Apabila seorang laki-laki yang shalih dianjurkan untuk mencari wanita muslimah ideal, maka demikian pula dengan wali kaum wanita. Wali wanita pun berkewajiban mencari laki-laki shalih yang akan dinikahkan dengan anaknya,  sebagaimana bunyi hadits berikut:




Khitbah merupakan pintu menuju pernikahan yang diridhoi dan dianjurkan oleh Allah SWT dan rasulNya, dimana rasulullah SAW bersabda pula:




Sebagaimana biasanya dalam Islam, segala sesuatu memiliki aturan dan persyaratan yang harus dipenuhi, maka khitbah pun memiliki persyaratan yang wajib dipenuhi, yaitu sebagai berikut:


a. Tidak adanya penghalang antara kedua mempelai, yaitu tidak ada hubungan keluarga (mahrom), tunggal susuan (rodloah), mushoharoh, atau penghalang yang lain, sebab kitbah adalah langkah awal dari perkawinan maka disamakan hukumnya dengan akad pernikahan.

b. Tidak berstatus tunangan orang lain, seperti dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam An-Nasai mengatakan :" Tidak boleh bagi seorang lelaki melamar tunangan orang lain sehingga ia menikahinya atau meninggalkannya ".


Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim. Keharaman ini jika tidak mendapat izin dari pelamar pertama atau ada unsur penolakan dari pihak mempelai wanita, itu tadi adalah pendapat mayoritas ulama' (Hanafiah, Malikiah dan Hanabilah), namun sebagian ulama' lain memperbolehkan khitbah tersebut apabila tidak ada jawaban yang jelas dari mempelai wanita.


Haruskah adanya khitbah?

Jawabannya tentu, Ya harus, karena khitbah memiliki beberapa keutamaan yang tidak bisa diperoleh bila seseorang langsung melaksanakan akad nikah, beberapa keutamaan khitbah adalah antara lain:




Melihat calon isteri pada dasarnya hukumnya mandub (sunnah) menurut pendapat jumhur ulama (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, jld. III, hal. 113).

Adapun dari segi waktu, melihat calon isteri hukumnya boleh (mubah) sebelum khitbah, berdasarkan tunjukan (dalalah) bahasa dan dalil hadits Nabi Saw. Boleh pula dilakukan sesudah khitbah berdasarkan dalil hadits Nabi Saw.


Nabi Saw bersabda: Jika salah seorang kamu hendak mengkhitbah seorang perempuan, maka tidak ada dosa atasnya untuk melihat perempuan itu jika semata-mata dia melihat perempuan itu untuk khitbah baginya, meskipun perempuan itu tidak mengetahuinya. [HR. Ibnu Hibban dan ath-Thabarani, dari Abu Hamid As-Sa’idiy ra. Hadits hasan


Hadits itu dengan jelas menunjukkan bolehnya melihat perempuan sebelum mengkhitbahnya. Maka dari itu, banyak ulama yang membolehkan melihat calon isteri sebelum terjadinya khitbah


Kesimpulannya, bahwa secara syar’i mubah bagi seorang laki-laki untuk melihat perempuan calon isterinya sebelum terjadinya khitbah dari lelaki itu kepada pihak perempuan. Namun dalam melakukannya, tidak boleh dilakukan dengan berkhalwat (berdua-duan secara menyendiri


Adapun melihat setelah khitbah, juga dibolehkan menurut syara’. Diriwayatkan bahwa al-Mughirah ra telah mengkhitbah seorang perempuan. Nabi Saw lalu bersabda kepadanya, “Unzhur ilayha! Fa-innahu ahrâ an yu’dama baynakumâ.” (Lihatlah dia! Karena itu akan lebih mengekalkan perjodohan kalian berdua). [HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. Lihat Imam ash-Shan’ani, Subulus Salam, III/113).


Namun apakah khitbah membolehkan seseorang berkhalwat dengan pinangannya?



Khitbah, meski bagaimanapun dilakukan berbagai upacara, hal itu tak lebih hanya untuk menguatkan dan memantapkannya saja. Namun untuk berkhalwat tetap tidak diperbolehkan dalam arti yang sebenarnya, maksudnya bila seseorang benar-benar berkhalwat berdua dengan pinangannya hingga memungkinkan masuknya pihak ketiga [setan] maka hal itu tentunya akan mengakibatkan kemudharatan dan bukan kemaslahatan. Rasulullah SAW bersabda:


„Jauhilah olehmu berduaan dengan perempuan. Demi diariku yang ada ditangan-Nya, seorang laki-laki yang berduaan dengan seorang perempuan, pasti setan akan menjadi teman ketiganya dan seorang yang mencelupkan tangannya ke dalam darah babi yang bercampur lumpur adalah lebih baik daripada ia menyentuh tangan perempuan yangbukan mahramnya“(H.R. Thabrani).


 Karena itu, yang penting dan harus diperhatikan di sini bahwa wanita yang telah dipinang atau dilamar tetap merupakan orang asing (bukan mahram) bagi si pelamar sampai terselenggaranya perkawinan (akad nikah) dengannya. Tidak boleh ia dan teman wanitanya bersepian (berkhalwat).

Karena itu, nasihat saya kepada saudara penanya, hendaklah segera melaksanakan akad nikah dengan wanita tunangannya itu. Jika itu sudah dilakukan, maka semua yang ditanyakan tadi diperbolehkanlah. Dan jika kondisi belum memungkinkan, maka sudah selayaknya ia menjaga hatinya dengan berpegang teguh pada agama dan ketegarannya sebagai laki-laki, mengekang nafsunya dengan berpuasa dan mengendalikannya dengan takwa. Sungguh tidak baik memulai sesuatu dengan melampaui batas yang halal dan melakukan yang haram. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :


“ Wahai para pemuda, jika kamu sudah mempunyai bekal, maka segeralah menikah. Karena dengannya pandangan matamu akan terjaga dan nafsu syahwatmu akan terkendali. Jika belum mampu menikah, maka berpuasalah karena puasa itu merupakan benteng (dari hawa  nafsu)”(H.R. Bukhari Muslim).

Sebaiknya para bapak dan para wali agar mewaspadai anak-anak perempuannya, jangan gegabah membiarkan mereka yang sudah bertunangan. Sebab, zaman itu selalu berubah dan, begitu pula hati manusia. Sikap gegabah pada awal suatu perkara dapat menimbulkan akibat yang pahit dan getir. Sebab itu, berhenti pada batas-batas Allah merupakan tindakan lebih tepat dan lebih utama.  Allah SWT berfirman:


"... Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Q.S.Al-Baqarah/2: 229)


"Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan."
(Q.S. An-Nur/24: 52).

Wallahu A’lam

Labels: