Hadits Wakalah

Rasulullah Saw mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mengwinkan (qabul perkawinan Nabi dengan ) Maimunah r.a.,” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’).
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw untuk menagih utang kepada beliau dengan cara kasar, sehingga para sahabat berniat untuk ‘menanganinya”. Beliau bersabda, ‘Biarkan ia, sebab pemilik hak berhaak untuk berbicara;’ lalu sabdanya, ‘Berikanlah (bayarkanlah) kepada orang ini unta umur setahun seperti untanya (yang diutang itu)’. Mereka menjawab, ‘kami tidak mendapatkannya kecuali yang lebih tua.’ Rasulullah kemudian bersabda: ‘Berikanlah kepada-nya. Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik di dalam membayar.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkn yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”
Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
Pengertian wakalah menurut bahasa adalah penyerahan dan penjagaan. Sedangkan menurut istilah syar’i adalah seseorang mengangkat orang lain sebagai pengganti dirinya, secara mutlak ataupun terikat.
Kaum muslimin sepakat membolehkan wakalah, karena hal ini termasuk dari bagian ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan taqwa, karena tidak semua orang mampu menangani sendiri seluruh urusannya. Sehingga memerlukan wakil yang berfungsi sebagai pengganti dirinya untuk melaksanakan suatu tugas.

Begitu pula dalam lembaga LKS (lembaga keuangan syariah), praktek wakalah ini diadopsi atau dilaksanakan di LKS sebagai bentuk pelayanan jasa perbankan kepada nasabah. Tentunya untuk memudahkan baik kepada LKS itu sendiri ataupun kepada nasabah.

Ketentuan tentang wakalah, yaitu: pertama, pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). Kedua, wakalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak.
Rukun dan syarat wakalah adalah pertama, syarat-syarat yang mewakilkan haruslah pemilik yang sah yang dapat bertindak terhadap sesuatu yang diwakilkan. Serta orang mukallaf atau anak mumayyiz dalam batas-batas tertentu, yakni dalam hal-hal yang bermanfaat baginya seperti mewakilkan untuk menerima hibah, menerima sedekah dan sebagainya.
Kedua, Syarat-syarat yang mewakili (wakil), yaitu harus cakap hukum, dapat mengerjakan tugas yang diwakilkan kepadanya, dan wakil adalah orang yang diberi amanat.

Kriteria hal-hal yang diwakilkan adalah sebagai berikut, pertama, diketahui dengan jelas orang yang mewakili. Kedua, tidak bertentangan dengan syariah Islam. Ketiga, dapat diwakilkan menurut syariah Islam. 
Sumber [www.pkesinteraktif.com]

Labels: