Anak Perempuan



Oleh : Amirah Ahmad Nahrawi


Kelahiran anak laki2 hingga kini dianggap sebagai penerus garis keturunan keluarga. bahkan tidak sedikit pula yg menjadikan penanda kehormatan. Sebaliknya berbagai belitan kesedihan dan rasa malu menghantui pasangan yang


‘hanya’ dikaruniai anak perempuan, walaupun pemikiran dah berkembang dan seharusnya hal demikian bukanlah menjadi kendalabagi orang rua maupun keluarga besar. Bahkan tidak sedikit orang tua yg lebih mendambakan bayi laki-laki  dibanding keinginan untuk mendapatkan anak perempuan. Demikianlah keadaan mayoritas manusia

 Islam memberikan kemuliaan khusus bagi seorang anak perempuan, jika anak perempuan itu dimuliakan, diberikan kasih sayang yang sepatutnya, pendidikan yang layak, hingga membesarkan anak perempuan yang kelak akan manjadi penyebab orang tua masuk surga. 

Betapa indahnya agama ini, agama yang memiiki keseimbangan gender, hak dan kewajiban yang rata, serta tidak memandang bulu... sesungguhnya yang paling mulia disisi Tuhan adalah yang paling bertaqwa antara kita. 

Keindahan Islam dalam hal ini bukanlah seorang laki-laki yang dimuliakan, dengan derajat sebagaimana telah didapatkannya seorang perempuan, akan tetapi derajat itu hanyalah menjadi bagian anak perempuan saja. 

 Sebagaimana dikatakan Rasulullah saw  dalam hadits ‘Aisyah ra:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yg diberi cobaan dengan dianugrahkan kepadanya  anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepadanya,  mereka anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

Al-Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah saw menyebut anak perempuan sebagai cobaan dalam hadits diatas, karena kebiasaan manusia yang tidak menghendaki anak perempuan. Bahkan dulu pada masa jahiliyah orang bisa merasa sangat terhina dan sangat malu bila mempunyai anak perempuan, dan tidak sedikit pula dari mereka yang mengubur anaknya hidup-hidup hanya untuk mengobati rasa malunya.

keadaan ini telah digambarkan oleh  firman Allah swt :


وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِاْلأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيْمٌ. يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُوْنٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan maka wajahnya menjadi berwarna merah kehitaman  dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan diri dari kaumnya karena malu akan berita buruk yang diterimanya [kelahiran anak perempuan]. Apakah dia akan memelihara anak itu dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkan hidup-hidup anak itu dalam tanah? Ketahuilah betapa buruk apa yang mereka tetapkan itu.”

Allah swt  mengancam perbuatan mengubur anak-anak perempuan:

وَإِذَا الْمَوْءُوْدَةُ سُئِلَتْ. بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

“Dan ketika anak perempuan yg dikubur hidup-hidup ditanya karena dosa apakah dia dibunuh?.”

Dalam hadits  Al-Mughirah bin Syu’bah ra, Nabi saw  bersabda:

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguh Allah mengharamkan atas kalian durhaka pada ibu, menolak untuk memberikan hak orang lain dan menuntut apa yg bukan hak serta mengubur anak perempuan hidup-hidup. 

Di sisi lain dlm agama yg mulia ini ada anjuran agar orang tua yg dikaruniai anak perempuan memuliakan anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yg menganugerahkan anak perempuan telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yg berbuat kebaikan kepada anak perempuannya.
‘Aisyah ra pernah mengatakan:

جَاءَتْنِي مِسْكِيْنَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيْهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا، فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيْدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ وَأَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ

Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua anak perempuan maka aku memberi tiga butir kurma. Kemudian dia memberi tiap anak masing-masing sebuah kurma dan satu buah lagi diangkat ke mulut utk dimakan. Namun kedua anak itu meminta kurma tersebut maka si ibu pun membagi  kurma yg semula hendak dimakan utk kedua anaknya. Hal itu sangat menakjubkanku sehingga aku ceritakan apa yg diperbuat wanita itu kepada Rasulullah saw .Beliau berkata:“Sesungguh Allah telah menetapkan surga baginya dan  membebaskan dia dari neraka.”

Dalam riwayat dari Anas bin Malik ra Rasulullah saw  juga menyebutkan kedekatannya denga orang tua yg memelihara anak-anak perempuan mereka dengan sebaik -baknya kelak pada hari kiamat:
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ -وَضَمَّ أَصَابِعَهُ-

“Barangsiapa yg mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuannya hingga mereka dewasa maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan [aku dan dia ]” dan beliau mengumpulkan jari jemarinya [ akan bersamaku kelak]


 Betapa banyak dan beragam wasiat rasulullah kepada ummatnya agar menyayangi, mengasihi, mendidik, dan memelihara anak perempuanya dengan sebaik-baiknya, bahkan banyak pula hadits yang tidak disebutkan disini, akan tetapi keindahan Islam merupakan cermin dari segala perbuatan kita. 


Wahai para orang tua, yang tidak dikaruani anak laki-laki, janganlah bersedih ataupun malu, sesungguhnya Allah memberimu kunci  yang dapat engkau gunakan untuk kebaikan atau kebinasaanmu sendiri yaitu anak perempuanmu adalah kunci kehidupan kelakmu....


Wallahu A'lam

Labels: