Kebahagiaan duniawi


Oleh: Amirah Nahrawi
Kebagiaan merupakan tujuan utama pencarian manusia dimuka bumi ini, tidak ada satu tujuan yang paling dicari oleh umat manusia kecuali kebahagian. Semua orang ingin hidup bahagia. Bahkan kalau ditelusuri, hampir setiap perbuatan yang dilakukan seseorang bertujuan langsung atau tidak langsung untuk mencapai kebahagiaan. Baik itu perbuatan baik, seperti menuntut ilmu, maupun perbuatan yang jahat sekalipun seperti mencuri atau mencopet. Tanya pada pencuri, apa alasan dia mencuri, ujung dari jawaban pasti untuk mencari kebahagiaan.
Dalam Islam, konsep kebahagiaan itu secara garis besar terbagi menjadi dua: bagian yaitu kabahagiaan dunia dan bahagiaan akhirat (QS Al Baqarah 2:201).
Marilah kita tinjau kebahagiaan dunia dalam hal ini. Kebahagiaan ini telah digambarkan dan diarahkan jalannya  dalam Al-Quran sebagai tempat yang tenang, nyaman dan “penuh fasilitas” serta keabadian (QS Al Baqarah 2:25), kebahagiaan duniawi dapat dicapai dengan tiga prinsip yaitu:
1/ Kerja Keras: Kerja keras merupakan pintu utama untuk meraih kebahagiaan duniawi,  sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an (QS Al Anfal 8:60; Al Jum’ah 62:9-10; Al Ankabut 29:69; Al Balad 90:4-17). Dan sebagaimana diterangkan oleh hadits rasulullah SAW yang menyerukan ummatnya agar bekerja keras seakan-akan dia kekal dimuka bumi ini.
2/ bersyukur atas apapun yang telah dihasilkan dari kerja keras tadi sebagaimana telah digariskan oleh al-Qur’an  (QS Ibrahim 14:7; An Naml 17:40). Artinya keberhasilan suatu usaha ataupun kegagalannya tidaklah merupakan hal yang penting ketimbang rasa syukur atas keputusan yang datangnya dari Yang Maha Kuasa. Bila seseorang memliki rasa syukur yang tinggi, ia tidak akan terpengaruh dengan hasil usahanya yang mengalami kegagalan. 
3/ Tawakkal. Tawakkal merupakan kunci penutup dari kebahagiaan duniawi, ketika seseorang telah melakukan dan mengupayakan segala usaha dan langkah demi mencapai suatu keberhasilan, maka sepatutnya ia menyerahkan hasil usahanya seutuhnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui dan Berkuasa atas segala sesuatu.
Manusia hanya dapat berusaha dan mengupayakan segala cara [yang halal tentunya] untuk meraih keberhasilan yang ingin dicapai, namun hasil akhir sepatutnya diserahkan kepada Allah dengan sesungguh-sungguhnya tanpa ada keraguan ataupun kepercayaan diri yang berlebihan tentang keberhasilan usahanya. Hal tersebut telah diterangkan dalam al-Qur’an pula (QS Ar Ra’d 13:88). Tentunya hal tersebut akan menumbuhkan rasa ketenangan hati bila usaha yang diharapkan tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Labels: ,