Mbah Surip

"Tak gendong, kemana-mana". Siapa sangka lirik dan lagu yang demikian sederhana bisa menjadi hit dimana-mana. Siapa sangka Mbah Surip yang sederhana, polos, tidak materialistis dan tidak ambisius bisa jadi orang yang paling dibicarakan akhir-akhir ini. Justru dalam puncak kepopuleran itu Mbah Surip yang banyak dicintai ini harus dipanggil Sang Kuasa.

Profil kesederhanaan ini adalah ilham yang kaya untuk dianalisa dan dipergunjingkan siapa saja. Memang tangan Tuhan yang berkedok sebagai nasib tidak bisa dipungkiri ikut punya kontribusi. Tampaknya skenario hidup yang disutradarai Pencipta ini mungkin ada hikmah tertentu yang dapat direnungkan oleh manusia. Bagaimana segala kesederhanaan itu bisa meraih puncak. Banyak orang dengan segala kesederhanaan hidup berada di populasi masyarakat. Namun, mengapa Mbah Surip jadi orang yang terpilih untuk dijadikan sebuah fenomental.

Bukan sekedar kesederhanaan

Kesederhanaan dalam bentuk apapun sering dianggap tidak berbanding lurus dengan kesuksesan dalam hidup. Dengan berbagai ukuran ilmiah ini yang masih dianut sebagai ukuran kesuksesan adalah usia produktif, kualitas penampilan, canggihnya ide dan pemikiran atau segala bentuk kecerdasan. Jiwa profesionalitas dalam manejemen modern seperti disiplin, efisien, efektif, atau produktivitas tinggi, mungkin tidak akan pernah terpikir oleh mbah Surip dalam berproduksi seni.

Tetapi mengapa fenomena baru dalam jagad ini muncul. Ketika kesederhanaan ide malah membuat booming industri musik. Sulit diterima logika sehat ketika orang kecil yang pernah menggelandang di terminal blok M dengan dengan jiwa seni yang sederhana dalam sekejap bisa menjadi orang besar. Tidak bisa diterima nalar, manajemen "hidup gila" ala Mbah Surip seperti minum kopi berpuluh gelas, merokok berpak-pak, hidup tak beratap rumah sendiri, makan atau tidur tidak berjadwal bisa menjadikan orang besar di negeri ini.

Tampaknya tanda alam yang sedang disutradarai Allah SWT ini harus ditangkap secara cerdas. Kesuksesan sang super star ini tampaknya bukan sekedar kesederhanaan. Kesederhanaan yang dibungkus kecerdasan moral tampaknya sangat berperanan dalam menggapai segala keinginan yang sulit untuk dipercayai.

Masyarakat akan sulit menilai kualitas aktifitas spiritual mbah Surip. Terlepas dari itu, kecerdasan moral yang tampak dari wajah polos beliau adalah ketulusan dan kejujuran dalam menghibur sesama. Banyak sedekah dalam harta dan jiwa kepada teman seniman dan lingkungan di mana mbah Surip pernah menggelandang adalah kekuatan dalam kehidupan sosialnya. Harta bukan sebagai dewa dalam kehidupannya juga akan menjadi kekuatan moral dalam kesuksesannya. Niat baik dan berpikir positif terhadap semua orang, adalah sikap beliau yang sering diceriterakan sahabatnya tampaknya sebagai kekuatan sukses dalam kehidupannya. Kecerdasan bermoral dalam bermusik inilah yang menjadi rahasia mengapa karya musiknya menjadi berbobot di telinga banyak penikmat musik Indonesia. Ternyata ketulusan berkarya dirindukan oleh masyarakat luas. Justru sikap imaterilistik dari sosok mbah Surip malah mendatangkan miliaran rupiah. Mbah Surip bukan terlahir tua, dimana kesuksesan baru muncul dalam akhir hayatnya. Dibalik kesederhanaan itu kerja keras, tekun dan tidak berputus asa adalah modal utama dalam

Akhir hidup mbah Surip akan menjadi inspirasi bagi manusia yang tidak percaya diri. Bahwa sukses itu tidak hanya menjadi bagian segelintir orang, tapi menjadi hak setiap orang yang mau berjuang untuk mendapatkannya. Menjadi orang besar akan diawali dari mimpi, hasrat dan harapan. Tapi bukan sekedar bermimpi untuk menjadi sukses, harus mulai bertindak, walaupun itu hanya sebuah langkah kecil.

Satu hal lagi yang patut dikutip disini, yaitu dimana Allah SWT meninggikan derajat seseorang hambaNya maka tiada seorangpun yang dapat merendahkannya.

Labels: