Hal Yang Membatalkan Puasa

Sebagaimana ibadah lainnya, maka puasapun dapat batal bila mengalami hal-hal yang akan diuraikan berikut ini, yaitu:

1. Murtad: memutuskan keislamannya baik dgn niat, perkataan ataupun perbuatan. meskipun kemurtadannya hanya berlangsung sekejap saja lalu kemudian ia kembali bertaubat masuk islam,maka krn sebab murtad tsb batallah puasanya.
2. Haidh, nifas dan melahirkan bagi wanita, meskipun hanya sesaat saja terjadinya di siang hari ketika ia sedang berpuasa.
3. Gila, bila seseorang mengalami hilang akal sehatnya meskipun hanya sesaat maka puasanya batal.
4.Mabuk : Tentunya mabuk karena minuman keras jelas puasanya batal, namun yang dipermasalahkan disini mabuk karena penyakit tertentu maka ada beberapa pendapat yaitu:
* Imam Romly : Beliau berpendapat bahwa apabila mabuknya seseorang karena penyakit tertentu sepanjang hari maka batallah puasanya,namun jika sadar meskipun hanya sesaat saja maka sah puasanya
* Ibnu Hajar : berpendapat bahwa apabila ayan atau mabuknya itu merupakan suatu hal yg sudah sering terjadi karena penyakit tertentu, maka puasanya dihukum batal meskipun terjadi hanya sesaat..
* Jumhur Ulama berpendapat: an atau mabuk karena penyakit dari pagi hingga maghrib maka batallah puasanya.
5. Bersetubuh: Sebagaimana telah diketahui tentunya bahwa apabila seseorang bersetubuh dengan istrinya maka hal tersebut membatalkan puasa. Tentunya telah diketahui pula bahwa bila hal tersebut terjadi, maka seseorang yang telah melakukannya wajib baginya membayar kaffarah yaitu sebagai berikut:
* Memerdekakan seorang budak yg kondisinya tdk cacat dan dapat bekerja.tentunya dimasa sekarang budak sudah tiada lagi dibagian besar belahan dunia -wallahu a'lam bila terdapat dibagian yg tidak saya ketahui-.
* Bila tidak mempu, maka berpuasa selama 2 bulan berturut2 dan tidak terputus, artinya harus melunaskan dua bulan sekaligus, apabila disuatu hari ia tidak sanggup berpuasa dan membatalkan puasanya, maka wajib baginya untuk mengulangnya dari awal, seakan-akan tidak pernah membayar kaffarah (Hikmah yang terdapat dan dapat dipetik dari point kedua ini adalah, hukuman yang berat dan latihan kedisplinan jiwa yang tinggi bagi seorang hamba yang meremehkan dengan sengaja perintah Allah berpuasa)
* Bila tidak sanggup, maka wajib memberikan makan kepada 60 orang miskin yg mana setiap orang miskin mendapatkan jatah sebanyak 1 mud(1 mud-nya madzhab imam syafi’I =0,687 liter=543 gram). namun jika dia adalah orang yg miskin yg tdk mampu memberikan makanan kpd 60 orang miskin,maka kewajiban itu berpindah ketangan orang-orang yang mempu membayar kaffarahnya itu (orang-orang tersebut adalah garis lurus kebawah -anak- dan garis lurus kesamping -saudara sekandung atau tiri- ) dan apabila kesemuanya adalah orang-orang yang tidak sanggup membayar kaffarah tersebut maka menurut sebagian ulama terputuslah kaffarah itu dan yang melakukannya bebas dari tuntutan. hal ini disandarkan kepada kejadian pada masa rasulullah SAW dimana seorang kakek tua telah bersetubuh dengan istrinya pada siang ramadhan, namun ia adalah orang yang tidak mampu membayar dikarenakan kemiskinannya yang membelit, maka iapun datang bersama istrinya melaporkan halnya kepada Rasulullah SAW yang kemudian memerintahkannya agar membayar kaffarah sebagaimana telah disebutkan diatas, namun karena ketidaksanggupannya membayar ketiga point itu, maka Rasulullah SAW memberikan kurma kepadanya untuk disedekahkan kepada keluarganya, karena ia adalah orang paling miskin dikampungnya. (hikmah yang dapat dipetik dari pristiwa itu adalah, sebagaimana Allah SWT adalah Maha Pemarah, maka Ia pula lah Maha Pemurah, artinya Allah SWT memberikan hukuman yang teramat berat tiada dari tiga point diatas yang dapat dikatakan ringan, namun disamping itu Allah SWT Maha Pemurah dimana Allah tidak akan membebankan sesuatu kepada hambaNya melainkan hamba tersebut sanggup malakukannya -wallahu A'lam)
Catatan penting:Jika seseorang pada siang hari batal puasanya sebab makan atau minum atau hal lainnya kemudian setelah itu ia menyetubuhi istrinya,maka tidak diwajibkan kaffarah baginya, karena batalnya puasa bukan karena bersetubuh akan tetapi karena makan atau minum -dengan senganja tentunya- ataupun karena hal lain selain syahwat dan bersetubuh.
6. Masuknya sesuatu kedalam Jauf (Tenggorokan). Menurut Imam Syafi'i seluruh lubang yang terdapat pada wajah manusia pada ujungnya menyatu yaitu kearah tenggorokan kecuali mata. namun menurut Imam Ghazali seluruh lubang pada panca indra manusia adalah terbuka kecuali mata dan teliga. Pendapat ketiga adalah ilmu kedokteran yang telah membuktikan bahwa mata merupakan lubang yang terbuka dan telinga merupakan lubang tertutup. contoh yang konkrit dapat dipraktekkan sendiri yaitu bila seseorang memakai tetes mata, maka akan terasa cairannya melewati tenggorokan, berbeda halnya bila percobaan yang sama dilakukan pada telinga.
7. Keluarnya air mani -Sperma- dengan sengaja ataupun tanpa disengaja.
8. Muntah
Sekian, Wallahu A'lam

Labels: