Undang-Undang berhijab

Anas bin malik menceritakan bahwa tatkala rasulullah SAW menikah dengan Zainab binti Jahsy, maka beliau mengadakan walimah dan mengundang orang banyak. Dan banyak diantara para undangan yang masih duduk berbincang-bincang, sedangkan rasulullah SAW ingin keluar, maka beliaupun keluar dan ikut keluar bersamanya para undangan kecuali sedikit dari mereka yang masih duduk berbincang-bincang.

Tidak lama kemudian beliau SAW kembali masuk dan masih ada tiga undangan yang sedang asik duduk berbincang, beliaupun duduk berbincang bersama mereka. Akhirnya tiga orang itu pun keluar, dan aku [Anas bin Malik] memberitahukan hal tersebut kepada rasulullah SAW. Maka beliau masuk kerumahnya, akupun mau masuk seperti biasanya, akan tetapi dilarang oleh rasulullah SAW karena sudah turun ayat berhijab, dan sejak saat itu aku tidak bebas keluar masuk rumah rasulullah SAW seperti biasanya. (Riwayat Bukhari)

Anas bin Malik meriwayatkan pula bahwa ‘Umar RA berkata kepada rasulullah SAW: Ya rasulullah, sesungguhnya siapa saja bisa masuk kerumahmu, alangkah baiknya bila engkau meminta istri-istrimu untuk berhijab. Maka turunlah ayat 53 surah al-Ahzab yang memerintahkan wanita berhijab:

يأيها الذين آمنوا لاتدخلوا بيوت النبى إلا ان يؤذن لكم إلى طعام غير ناظرين إنه ولكن إذا دعيتم فادخلوا فاذا طعمتم فانتشروا ولا مستئنسين لحديث إن ذلك كان يؤذى النبى فيستحى منكم والله لابيتحى من الحق وإذا سألتموهن متاعا فسئلوهن من وراء حجاب ذلكم اطهر لقلوبكم وقلوبهم وما كان لكم أن تؤذوا رسول الله ولا أن تنكحوا أزوجه من بعده أبدا إن ذلكم كان عند الله عظيما.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan, dengan tidak menunggu-nunggu waktu makan. Tetapi bila kamu diundang maka masuklah dan kalau sudah selesai makan maka keluarlah dan jangan asik-asik berbincang dan perpanjang berbincangan. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu nabi, dan nabi akan malu menyuruhmu keluar. Dan Allah tidak malu untuk menerangkan yang benar. Apabila kamu minta suatu keperluan kepada mereka [Istri-istri nabi] maka mintalah dari belakang tabir, cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan janganlah kamu menyakiti hati nabi dan janganlah menikahi istri-istrinya setelah ia wafat selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah sangat besar dosanya di sisi Allah.

Sejak saat itulah para istri rasulullah mengenakan hijab bila hendak pepergian, atau bila ada orang lain yang izin bertamu ataupun diundang ke rumahnya oleh rasulullah SAW. Dan sejak saat itupula orang-orang islam selalu meminta izin bila hendak masuk atau bertamu ke rumah rasulullah SAW.

hingga setelah beliau meninggal para sahabat banyak datang dan meminta izin untuk bertanya mengenai hal-hal yang menyangkut rasulullah SAW , atau mengenai satu masalah yang tidak dapat diputuskan atau belum diketahui oleh mereka hukumnya dari belakang hijab atau tabir. Yang kemudian diterangkan oleh para istri rasulullah SAW.

Sekian, wallahu A’lam

Amirah. AN

Labels: