Niat dan amal manusia

قال الامام البخارى رحمه الله حدثنا الحميدى عبد الله بن الزبير عن سفيان بن عيينه قال حدثنا يحيى بن سعيد الانصارى قال اخبرنى محمد بن ابراهيم التيمى أنه سمع علقمة بن وقاص الليثى يقول سمعت عمر بن الخطاب رضى الله عنه على المنبر قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إنما الاعمال بالنيات وانما لكل امرء مانوى فمن كانت هجرته الى دنيا يصيبها او امرأة ينكحها فهجرته الى ماهاجر اليه

Imam al-Bukhari RA berkata : diriwayatkan kepada kami oleh al-Humaidi Abdullah bin az-Zubair dari Yahya bin Sa’id al-Anshari berkata: diriwayatkan kepada kami oleh Muhammad bin Ibrahim at-Taimi bahwasanya ia mendengar ‘Alqamah bin Waqqas al-Laitsi berkata: saya mendengar ‘Umar bin Khattab berkata: saya mendengar rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya segala amal perbuatan adalah dengan niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang berhijrah (ke madinah) demi meraih keuntungan dunia atau menikahi wanita yang ingin ia nikahi maka ia hanya memperoleh tujuan dari hijrahnya itu.


Keterangan Rawi:

1/ Al- Humaidi :
2/ Sufyan bin ‘Uyaynah :
3/ Yahya bin Sa’id al-Anshari
4/ Muhammad bin Ibrahim at-Taimi
5/ ‘Alqamah bin Waqqas al-Laitsi
6/ Umar bin Khattab


Keterangan Teks:
Paragraph pertama berbunyi (Sesungguhnya amal atau perbuata itu dengan niat) bunyi paragraph ini mengandung beberapa inti yang penting dari segi ibadah yaitu:

1/ yang dimaksudkan dengan amal perbuatan itu berfungsi ganda, yaitu fungsi ibadah dan fungsi adat. Misalnya shalat, puasa, haji. Dll. Maka untuk membedakan pekerjaan ibadah dengan pekerjaan lainnya diharuskan ada niat, kalau tidak maka pekejaan itu tidak berarti atau sia-sia belaka yakni tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT.

2/ adapun pekerjaan yang pada hakikatnya dan zatnya dianggap ibadah adalah seperti membaca al-Qur’an. Tidak diharuskan niat dan pembacanya mendapatkan pahala, meskipun yang disertai dengan niat lebih afdhal.

3/ karena paragraph ini tidak dijelaskan secara rinci atau mustatir, maka para ulama seperti imam syafi’I menafsirkan bahwa amal yang disertai dengan niat adalah shahih dan yang tidak disertai dengan niat adalah tidak shahih. Sedangkan al-Hanafiyah menafsirkan niat sebagai pelengkap artinya amal seseorang tetap sah tapi tidak sempurna. Hal ini berlaku bagi pekerjaan ibadah yang merupakan syarat bagi ibadah lainnya, seperti syarat shalat adalah wudhu, maka wudhu ini tidak boleh dikerjakan tanpa niat. Dsb.

4/ untuk pengucapannya. Maka imam syafi’I, hanafi dan hambali berpendapat bahwa mengucapkan niat dengan lisan adalah sunnah. Sedangkan maliki berpendapat bahwa tidak menjadi masalah bila diucapkan namun abih baik bila tidak diucapkan.

Paragraph yang kedua berbunyi (dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatkannya) paragraph ini mengandung petunjuk diantaranya:

1/ Apabila dicermati lebih mendalam arti dari paragraph ini maka akan kita temukan bahwa hati dan niat merupakan kamar operasi utama yang menyetir gerak gerik manusia serta menentukan arah dan haluannya. Hal ini sesuai dan berhubungan erat dengan sabda rasulullah SAW :

ألا إن فى القلب مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهى القلب


Ketahuilah bahwa dibalik jasad terdapat segumpal darah yang bila baik keadaannya maka akan baik pula seluruh anggota jasad dan apabila buruk keadaannya maka buruk pula seluruh anggota jasad lainnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati.

Karenanya manusia diperintahkan untuk beribadah dengan tulus dan ikhlas kepada Allah SWT. Dan yang menjadi tolak ukur bukanlah lahiriyahnya akan tetapi apa yang tersembunyi di dalam hati. Sebagaimana firman Allah SWT:

وما أمرو إلا ليعبدو الله مخلصين له الدين حنفاء


Dan mereka tidak diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas karenaNya. (Al-Bayyinah # 5)


2/ pekerjaan yang mubah akan mendapatkan pahala pula bila disertai dengan niat agar dapat membantu dalam mengerjakan ibadah dan mencapai mardhatillah.

Patut diketahui bahwa dalam hadits ini ada satu paragraph yang tidak disebutkan akan tetapi diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dari Yahya bin Qaz’ah dalam hadits lain yang berbunyi:

فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله


Dan barang siapa yang hijrah dari mekkah ke Madinah karena membela agama Allah dan rasulNya maka ia akan mendapatkan pahala hijrah itu.

Kemudian menyusul paragraph terakhir yang berbunyi: Maka barang siapa yang berhijrah (ke madinah) demi meraih keuntungan dunia atau menikahi wanita yang ingin ia nikahi maka ia hanya memperoleh tujuan dari hijrahnya itu.

Kedua paraghrap ini menunjukkan bahwa tolak ukur disisi Allah SWt adalah hati dan niat seseorang , walau pekerjaan hijrah begitu tinggi drajatnya dan besar pahalanya namun kalau dikerjakan bukan karena Allah SWT maka ia tidak mendapatkan pahala. Seperti halnya seseorang yang berhijrah demi wanita yang ia cintai yaitu ummu Qais sehingga ia di kenal dengan sebutan Muhajir Ummu Qais.

Sekian. Wallahu A’lam

Alm. KH. Ahmad Nahrawi


Labels: