Khitan

Khitan secara bahasa artinya memotong. Secara terminologis artinya memotong kulit yang menutupi alat kelamin lelaki (penis). Dalam bahasa Arab khitan juga digunakan sebagai nama lain alat kelamin lelaki dan perempuan seperti dalam hadist yang mengatakan "Apabila terjadi pertemuan dua khitan [kemaluan] , maka telah wajib mandi [yaitu mandi thaharah]" (H.R. Muslim, Tirmidzi dll.).
Ahli kedokteran menerangkan bahwa faedah khitan antara lain sebagai berikut:
1/ bermanfaat untuk kesehatan karena membuang anggota tubuh lebih yang menjadi tempat persembunyian kotoran, virus, najis dan bau yang tidak sedap. Air kencing mengandung semua unsur tersebut. Ketika keluar melewati kulit yang menutupi alat kelamin, maka endapan kotoran sebagian tertahan oleh kulit tersebut. Semakin lama endapan tersebut semakin banyak. Bisa dibayangkan berapa lama seseorang melakukan kencing dalam sehari dan berapa banyak endapan yang disimpan oleh kulit penutup kelamin dalam setahun. Oleh karenanya beberapa penelitian medis membuktikan bahwa penderita penyakit kelamin lebih banyak dari kalangan yang tidak dikhitan. Begitu juga penderita penyakit berbahaya aids, kanker alat kelamin dan bahkan kanker rahim juga lebih banyak diderita oleh pasangan yang tidak dikhitan. Ini juga yang menjadi salah satu alasan non muslim di Eropa dan AS melakukan khitan.
Hukum Khitan
Dalam fikih Islam, hukum khitan dibedakan antara untuk lelaki dan perempuan. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khitan baik untuk lelaki maupun perempuan.
Hukum khitan untuk lelaki:
Menurut jumhur (mayoritas ulama), hukum khitan bagi lelaki adalah wajib. Para pendukung pendapat ini adalah imam Syafi'i, Ahmad, dan sebagian pengikut imam Malik. Imam Hanafi mengatakan khitan wajib tetapi tidak fardlu.
Menurut riwayat populer dari imam Malik beliau mengatakan khitan hukumnya sunnah. Begitu juga riwayat dari imam Hanafi dan Hasan al-Basri mengatakan sunnah. Namun bagi imam Malik, sunnah kalau ditinggalkan berdosa, karena menurut madzhab Maliki sunnah adalah antara fadlu dan nadb. Ibnu abi Musa dari ulama Hanbali juga mengatakan sunnah muakkadah.
Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mughni mengatakan bahwa khitan bagi lelaki hukumnya wajib dan kemuliaan bagi perempuan, andaikan seorang lelaki dewasa masuk Islam dan takut khitan maka tidak wajib baginya
Dalil yang dijadikan landasan bahwa khitan tidak wajib hanyalah sunnah adalah :
1/ Salman al-Farisi ketika masuk Islam tidak disuruh khitan;
2/ Hadits di atas yang menerangkan kesempurnaan atau kesucian dimana menyebutkan khitan termasuk diantaranya menjadikan derajat khitan itu sunnah seperti mencukur bulu ketiak dan merapikan kuku.
3/ Hadits Rasulullah SAW "Khitan adalah sunnah bagi lelaki dan keutamakan bagi perempuan.
Dalil yang dijadikan landasan para ulama yang mengatakan khitab wajib adalah.:
1. Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW. bersabda bahwa nabi Ibrahim melaksanakan khitan ketika berumur 80 tahun, beliau khitan dengan menggunakan kapak. (H.R. Bukhari). Nabi Ibrahim melaksanakannya ketika diperintahkan untuk khitan padahal beliau sudah berumur 80 tahun. Ini menunjukkan betapa kuatnya perintah khitan.
2. Kulit yang di depan alat kelamin terkena najis ketika kencing, kalau tidak dikhitan maka sama dengan orang yang menyentuh najis di badannya sehingga shalatnya tidak sah. Sholat adalah ibadah wajib, segala sesuatu yang menjadi prasyarat shalat maka hukumnya wajib.
3. Abu Dawud dan Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Kulaib ketika masuk Islam "Buanglah rambut kekafiran dan berkhitanlah". Perintah Rasulullah SAW ini menunjukkan kewajiban khitan.
4. Diperbolehkan membuka aurat pada saat khitan, padahal membuka aurat sesuatu yang dilarang. Ini menujukkan bahwa khitab wajib, karena tidak diperbolehkan sesuatu yang dilarang kecuali untuk sesuatu yang sangat kuat hukumnya dan lebih tinggi tingkatannya disbanding tingkatan larangan itu sendiri.
5. Memotong anggota tubuh yang tidak bisa tumbuh kembali dan disertai rasa sakit tidak mungkin kecuali karena perkara wajib, seperti hukum potong tangan bagi pencuri.
6. Khitan merupakan tradisi sejak zaman Rasulullah SAW sampai zaman sekarang dan tidak ada yang meninggalkannya, maka tidak ada alasan yang mengatakan itu tidak wajib.

Khitan untuk perempuan
Hukum khitan bagi perempuan telah menjadi perbincangan para ulama. Sebagian mengatakan itu sunnah dan sebagian mengatakan itu suatu keutamaan saja dan tidak ada yang mengatakan wajib.
Perbedaan pendapat para ulama seputar hukum khitan bagi perempuan tersebut disebabkan karena :
1/ Riwayat hadits Rasulullah SAW mengenai khitan perempuan yang masih dipermasalahkan kekuatannya.
2/ Tidak ditemukan hadits sahih yang menjelaskan hukum khitan perempuan. Semua hadist yang meriwayatkan khitan perempuan mempunyai sanad yang dhaif [lemah].
3/ Hadist paling populer tentang khitan perempuan adalah hadits Ummi 'Atiyah bahwa Rasulllah SAW bersabda kepadanya:"Wahai Umi Atiyah, berkhitanlah dan jangan berlebihan, sesungguhnya khitan lebih baik bagi perempuan dan lebih menyenangkan bagi suaminya". Hadits ini diriwayatkan oleh Baihaqi, Hakim dari Dhahhak bin Qais. Abu Dawud juga meriwayatkan hadits serupa namun semua riwayatnya dhaif dan tidak ada yang kuat.

Bagian yang dipotong dari perempuan
Imam Mawardi mengatakan bahwa khitan pada perempuan yang dipotong adalah kulit yang berada di atas vagina perempuan yang berbentuk mirip cengger ayam. Yang dianjurkan adalah memotong sebagian kulit tersebut bukan menghilangkannya secara keseluruhan. Imam Nawawi juga menjelaskan hal yang sama bahwa khitan pada perempuan adalah memotong bagian bawah kulit lebih yang ada di atas vagina perempuan.
Namun pada penerapannya banyak kesalahan dilakukan oleh umat Islam dalam melaksanakan khitan perempuan, yaitu dengan berlebih-lebihan dalam memotong bagian alat vital perempuan. Seperti yang dikutib Dr. Muhammad bin Lutfi Al-Sabbag dalam bukunya tentang khitan bahwa kesalahan fatal dalam melaksanakan khitan perempuan banyak terjadi di masyarakat muslim Sudan dan Indonesia. Kesalahan tersebut berupa pemotongan tidak hanya kulit bagian atas alat vital perempuan, tapi juga memotong hingga semua daging yang menonjol pada alat vital perempuan, termasuk clitoris sehingga yang tersisa hanya saluran air kencing dan saluran rahim. Khitan model ini di masyarakat Arab dikenal dengan sebutan "Khitan Fir'aun". Beberapa kajian medis membuktikan bahwa khitan seperti ini bisa menimbulkan dampak negatif bagi perempuan baik secara kesehatan maupun psikologis, seperti menyebabkan perempuan tidak stabil dan mengurangi gairah seksualnya. Bahkan sebagian ahli medis menyatakan bahwa khitan model ini juga bisa menyebabkan berbagai pernyakit kelamin pada perempuan.
Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas beberapa kalangan ulama kontemporer menyatakan bahwa apabila tidak bisa terjamin pelaksanaan khitan perempuan secara benar, terutama bila itu dilakukan terhadap anak perempuan yang masih bayi, yang pada umumnya sulit untuk bisa melaksanakan khitan perempuan dengan tidak berlebihan, maka sebaiknya tidak melakukan khitan perempuan. Dan Ada pula sebagian besar pendapat para ulama kontemporer bahwa bila tidak menonjol berlebihan dan tidak menimbulkan rasa sakit maka tidak perlu dikhitan mengingat bahwa khitan bukanlah hal yang wajib dilakukan bagi prempuan karena semua hadits yang menyangkut masalah ini adalah hadits dhaif.
Waktu khitan
Dalam hal ini waktu khitan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1/ waktu wajib : saat anak tersebut Baligh. Karena saat itulah ia diwajibkan untuk melakukan ibadah yang diperintahkan Allah atasnya seperti shalat. Dan bila tidak khitan maka thaharahnya tidak sempurna dan tidak sah shalatnya .
2/ waktu sunnah : sewaktu masih berusia 7 hari sebagaimana yang telah Rasulullah sunnahkan pada Sunnah fi’liyah beliau ketika beliau malakukan aqiqah dan mengkhitan dua cucunya al-Hasan dan al-Husain. Dan nabi Ibrahim AS juga mengkhitan anaknya Ishak pada usia 7 hari.
3/ waktu ikhtiar [bebas] : waktu yang baik sebelum baligh.
Walimah Khitan
Walimah adalah perayaan. Imam Ahmad dan imam Syafi’I berpendapat bahwa walimah khitan termasuk perayaan yang tidak dianjurkan. Namun menurut imam Nawawi walimah khitan boleh dilaksanakan, dan bagi para undangan maka untuk memenuhinya maka hukumnya sunnah [bukan seperti hukumnya memenuhi undangan walimah – wajib- ] .

Sekian, Wallahu A’lam

Amirah A. Nahrawi


Labels: ,