CaraTurunnya Wahyu

قال الامام البخارى رحمه الله حدثنا عبد الله بن يوسف قال اخبرنا مالك عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة ام المؤمنين رضى الله عنها ان الحارث بن هشام رضى الله عنه سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف يأتيك الوحى ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم احيانا يأتينى مثل صلصلة الجرس وهو اشده علي فيفصم عنى وقد وعيت عنه ما قال واحيانا يتمثل لى الملك رجلا فيطلمنى فاعى ما يقول. قالت عائشة رضى الله عنها ولقد رأيته ينزل عليه الوحى فى اليوم الشديد البرد فيفصم عنه وان جبينه لبتفصد عرقا.

Imam al-Bukhari berkata: kami diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf berkata: diriwayatkan oleh Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah RA bahwa al-Harits bin Hisyam bertanya kepada rasulullah SAW : Bagaimana datangnya wahyu kepadamu? Rasulullah SAW menjawab: kadang kala wahyu datang seperti bunyi kelenengan dan itu yang terberat bagiku, dan begitu selesai aku telah menyadari apa yang disampaikannya. Dan kadang kala malaikat jibril datang berupa seorang laki-laki yang berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dikatakannya. ‘Aisyah berkata: sesungguhnya aku pernah melihat rasulullah SAW menerima wahyu pada suatu hari yang sangat dingin dan begitu selesai aku melihat dahinya penuh keringat.

Keterangan Rawi:
1/ Abdullah bin Yusuf
2/ Malik bin Anas
3/Hisyam bin ‘Urwah
4/ ‘Urwah bin Az-Zubair
5/ ‘Aisyah RA
6/ Al-Harits bin Hisyam

Keterangan Teks
Hadits ini mengandung fakta yang patut menjadi pusat perhatian kita yaitu:

1/ Wahyu:
Dalam segi pilologi wahyu adalah suatu pemberutahuan secara halus, dengan cara lisan, isyarat, sugesti, dan sebagainya.
Sedangkan wahyu dari segi istilah adalah kalamullah yang diturunkan kepada rasulNya, dengan cara menengar langsung kalamullah [sebagaimana terjadi pada nabi Musa AS], atau berupa berita yang disampaikan melalui perantara malaikat [Jibril ], atau berupa intisari langsung disampaikan ke dalam hati, dan seterusnya.
Perlu diingat bahwa yang bertanya disini adalah al-Harits bin Hisyam yang masuk islam pada Fathu Mekkah yaitu tahun ke-7 H. dimana pada saat itu orang-orang sudah terbiasa dengan pengertian wahyu dengan cara yang disampaikan oleh malaikat Jibril, karena itu, pertanyaan al-Harits menyangkut wahyu macam ini hal ini dapat dilihat dari jawaban rasulullah SAW yang menerangkan datangnya wahyu dengan cara yang disampaikan oleh malaikat kepadanya, yaitu berupa seorang laki-laki yang berbicara kepadanya.

2/ “Shalshalatil Jaras”:
Shalshalatil Jaras adalah keleneng, loceng yang berbunyi kuat, keroncengan, suara bell yang kerincing, karena di Mekkah saat itu tidak ada gereja, oleh sebab itu kita tidak dapat mengartikannya sebagai bunyi lonceng gereja, meskipun orang arab di utara seperti di syam dan yaman sangat mengenal hal itu. Akan tetapi kita hanya dapat mengatakan bahwa bunyi tersebut mirip-mirip dengan apa yang diterangkan diatas.
Rasulullah member keterangan bahwa cara itu adalah cara yang paling berat, sebab untuk memahami perkataan ditengah bisingan kerincing dan bunyi lonceng adalah hal yang sukar dan memerlukan konsentrasi tinggi, meskipun effeknya lebih mantap dan lebih kuat.terbukti dengan keterangan rasulullah SAW bahwa dengan selesainya wahyu maka beliaupun telah mengerti apa yang telah disampaikan oleh malaikat.

3/ Malaikat Jibril berupa laki-laki:
Raulullah SAW ketika menjawab pertanyaan al-Harits mengatakan bahwa kadang kala malaikat jibril datang berupa seorang laki-laki yang berbicara kepadanya dan beliau mengerti apa yang disampaikan.
Adapun pertanyaan yang sering terlontar adalah bagaimana malaikat bisa berubah menjadi manusia, atau bagaimana makhluk halus yang tidak terlihat dapat berubah dan menjadi manusia terlihat? Menurut hemat kami hal ini bukanlah masalah yang besar, bahkan hal ini adalah hal yang kecil dan tiada artinya dimata Yang Maha Pencipta dan Maha Berkuasa, Allah SWT bila menginginkan sesuatu maka hanyalah memerintahkannya [Kun] dengan seketika apa yang diinginkan itu terjadi [Fayakun] Subhanallah…
Patut diingat bahwa jawaban rasulullah SAW itupula mambantah pendapat golongan Athies dan Aphilosophist yang mengingkari adanya malaikat.
Dan bila ditinjau dari segi ilmu pengetahuan, dapat kita jumpai bahwa para sahabat tidak segan-segan untuk bertanya kepada rasulullah SAW tentang apa-apa yang tidak mereka fahami walaupun yang mereka tanyakan mengenai hal-hal abstract dan sulit difahami dan diterima oleh otak mereka, akan tetapi keimanan yang mereka miliki menjadikan jawaban rasulullah SAW sebagai penguat dan pendukung keimanan dan akidah mereka.

Sekian. Wabillahittautiq wal hidayah

Alm. KH. Ahmad Nahrawi

Labels: