Asal Usul Ilmu Hadits

Hadits merupakan sumber utama dalam hukum Islam, dan menempati peringkat kedua setelah al-Qur’an. Oleh sebab itu, para sahabat sangat memperdulikan kemurnian dan keabsahan hadits yang dinukilkan dengan sangat memperhatikan dan meneliti beberapa aspek yang memperngaruhi kualitas hadits itu. Sesuai dengan firman Allah SWT Surah al-Hujrat # 6
يأيها الذين آمنوا إذا جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا
Wahai orang-orang beriman, apabila kalian mendapatkan berita dari orang yang tidak terpercaya, maka hendaklah kalian meneliti keabsahannya terlebih dahulu.

Dan hadits rasulullah SAW:
فرب حامل فقه الى من هو افقه منه ورب حامل فقه ليس بفقيه
Barangkali orang yang menyampaikan suatu hukum dalam masalah fiqih menyampaikannya kepada orang yang lebih pinter darinya dalam masalah ini, dan barangkali orang yang menyampaikan suatu hukum dalam masalah fiqih bukanlah seorang alim.

Ayat dan hadits tersebut menerangkan pentingnya meneliti terlebih dahulu ketika mendapatkan suatu berita dalam masalah fiqih. Karena itulah para sahabat dan tabi’in selalu berusaha untuk mencari dan meneliti keabsahan berita yang diterimanya dari berbagai aspek. Bahkan diceritakan bahwa Khalifah Abu Bakar RA tidak menerima hadits/berita dari seseorang kecuali orang tersebut membawa saksi atas riwayatnya/beritanya tersebut.

Sama halnya dengan Abu Bakr RA, Ali RA melakukan hal yang sama bila mendapatkan berita/riwayat dari seseorang, iapun memintanya untuk bersumpah atas kebenaran beritanya itu, bila orang tersebut bersumpah maka beliau menerima riwayatnya dan beritanya itu.

‘Aisyah RA mendengar hadits yang dismpaikan oleh ‘Umar RA dan anaknya Abdullah bin Umar RA dari rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya seorang mayat [mu’min] tersiksa karena tangisan keluarganya. Dengan segera beliau membenarkan berita tersebut dan mengatakan: Demi Allah, rasulullah SAW tidak pernah bersabda demikian, akan tetapi sabdanya SAW ialah: Sesungguhnya seorang mayat [kafir] tersiksa dengan tangisan keluarganya”. Kemudian ‘Aisyah RA berkata: landasan dan referensi kalian adalah al-Qur’an dimana disebutkan dalam surah ath-thalaq #1 Allah berfirman:
ولاتزروا وازرة وزر أخرى
Dan tidaklah suatu dosa yang dilakukan seseorang dilimpahkan kepada orang lain.

Artinya bahwa hadits rasulullah SAW merupakan sandaran dan referensi kedua setelah al-Qur’an dan apabila bertentangan dengan nash, maka hadits tersebut perlu diteliti lebih dalam demi mencari keabsahan beritanya.

Hal demikian dilakukan para sahabat dan tabi’in agar menjaga keutuhan dan kemurnian hadits, dan bukanlah merupakan suatu prasangka buruk tentang penukil hadits, akan tetapi hanya untuk menjaga kemurnian dan kualitas hadits tersebut. Sebagaiman dikatakan oleh Imam Muslim :” para penukil berita bukanlah orang-orang yang fasiq dan sengaja merubah berita dari hadits yang disampaikan, akan tetapi pendengaran kerap kali salah”

Perlu diingat bahwa penelitian tentang keabsahan suatu berita berkembang ketika fitnah dan berpecahan kaum muslimin yang terbagi kepada beberapa golongan setelah terbunuhnya ‘Utsman bin Affan.
Pada Abad ke-2 H Perkembangan ilmu hadits menjadi lebih penting dan lebih diutamakan oleh para tabi’in, sehingga muncul dan bertambah banyak peneliti keabsahan hadits. Banyak buku ilmu hadits yang dikarang oleh para ahli hadits sebagai pedoman bagi ummat islam dalam menjaga dan melestarikan kemurnian dan keabasahan hadits. Diantara kitab-kitab ilmu hadits yaitu:
1/ Al-Muhdits al-Fashil bain ar-Rawi wa al-Wa’I, oleh al-Qadhi Abu Muhammad ar-Ramhurmuzi
2/ Ma’rifat Ulumul Hadits, oleh Abdullah al-Hakem an-Nisaburi
3/ Al-Kifayah fi ‘ilmur-Riwayah, oleh al-Khatib al-Baghdadi Abu Bakr
4/ Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adaab as-Sami’, idem
5/Mala Yasa’ al-Muhaddits Jahlahu, oleh Abu Hafsh Umar al-Mayanji
6/ Ulumul Hadits, oleh asy-Syahrazuri yang lebih dikenal dengan [Muqadimat Ibnu Shalaah]

Masih banyak lagi kitab-kitab ulummul-hadits yang dikarang demi menjaga kelestarian dan kemurnian serta keutuhan hadits.

Sekian, wallahu A’lam

Amirah A. Nahrawi

Labels: ,