'Umair bin Sa'd al-Qari'


Zuhud, Berani, dan tawadu'

Namanya 'Umair bin Sa'd al-Qari' RA, ia adalah seorang sahabat rasulullah SAW yang telah ikut berjihad bersama rasulullah SAW.
Ayahnya membawanya bersama rombongan yang akan membayat -pada bai'at ke dua- rasulullah SAW dan sejak saat itu beliau dikenal sebagai seorang yang alim dan ahli ibadah, tidak pernah ketinggalan dalam peperangan bersama rasulullah SAW bahkan beliau sangat senang berada dibarisan terdepan, hingga diberi sebutan" benang penyatu barisan".

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, ketika 'Umair sedang berada dalam suatu majlis bersama sahabat lainnya, tiba-tiba salah seorang bernama Julaisy mengatakan: apabila orang itu benar (Muhammad SAW) - dan aku kira tidak demikian - maka sesungguhnya kita lebih bodoh dari pada keledai. Mendegar perkataan yang mengandung hinaan itu dari teman terdekatnya, maka iapun bingung apa yang harus dilakukan, apakah memberitahu rasulullah SAW akan perkataan tadi? tapi bagaimana mungkin bukankah apa yang terjadi dalam suatu majlis adalah amanah yang tidak boleh disebarkan? tapi kalau 'Umai>r tidak memberitahu rasulullah SAW maka akan terjadi fitnah, bahkan kebungkamannya itu akan berakibat buruk terhadap agama. tidak lama ditimbang dan dipikirkan, maka 'Umair memutuskan bahwa perkara yang menyangkut agama lebih patut dimuliakan dari pada perkara lain, seketika ia terperanjat seraya berkata kepada Julasy: Wahai sahabatku, sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat aku cintai, dan sesungguhnya saya sangat benci bila engkau diterpa kesengsaraan, akan tetapi apa yang engkau katakan tadi menyangkut agama, dan agama adalah diatas segalanya, karena itu aku akan memberitahukan rasulullah SAW.

Ketika rasulullah SAW mendengar cerita 'Umair, ia memanggil Julasy dan bertanya kepadanya: apakah benar engkau telah berkata demikian? julasy menolak tuduhan itu dengan bersumpah atas nama Allah bahwa dia tidak mengatakan hal tersebut... Karena itulah turun ayat :
(يحلفون بالله ما قالوا، ولقد قالوا كلمة الكفر، وكفروا بعد إسلامهم وهمّوا بما لم ينالوا، وما نقموا إلا أن أغناهم الله ورسوله من فضله، فإن يتوبوا يَكُ خيرا لهم، و إن يتولّوْا يعذبهم الله عذابا أليما في الدنيا والآخرة، وما لهم في الأرض من ولي ولا نصير).
mereka bersumpah demi Allah bahwa mereka tidak mengatakannya sedangkan telah mereka katakan, perkataan kufur mereka setelah mereka masuk islam, dan sesungguhnya apa yang telah mereka ingkari adalah kebaikan dari Allah dan RasulNya, maka jika mereka bertaubat itu lebih baik bagi mereka dan jika mereka berpaling maka sesungguhnya Allah akan menurunkan siksa yang pedih atas mereka didunia dan akhirat dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung ataupun pendukung di muka bumi ini.

Mendengar ayat tersebut, seketika Julasy bertaubat dan mengakui perkataannya itu, rasulullah SAW memaafkan atas kekhilafannya.

Diriwayatkan pula bahwa pada masa Khilafah 'Umar bin Khattab 'Umair diangkat sebagai wali di Himsh (sebuah kota di Syiria) 'Umair berusaha menolak akan tetapi khalifah Umar tetap memaksa, karena apa yang telah dikenalnya dari sifat kesetiaan, kejujuran, keberanian dsb. akhirnya 'Umair menerima jabatan tersebut dengan berat hati. setahun berlalu tanpa ada kabar ataupun surat dari 'Umar, dan 'Umair masih menjalankan tugas walinya sebaik-baiknya, hingga suatu hari ia mendapat surat panggilan dari 'Umar ra yang memintanya untuk datang ke Mekkah.

Ketika Khalifah 'Umar sedang duduk bersama para sahabat, datanglah orang yang terlihat padanya bekas-bakas pasir sahara, memikul kantong kecil di sebelah kanannya dan memikul tempat air disebelah kirinya, Umar teperanjat ketika melihat bahwa yang datang adalah wali Himsh, 'Umair. Apakah engkau datang dari Syiria ke Mekkah jalan kaki? tanya Umar. Iya. Apakah tidak ada kendaraan? tanyanya lagi.. 'Umair menjawab: mereka tidak menawarkan aku dan aku tidak meminta kepada mereka. mendengar jawaban itu, Umar hampir meneteskan air mata, melihat kezuhudan yang dimiliki 'Umair. kemudian Umar bertanya: bagaimanakah engkau memerintah disana? Saya, memerintah sesuai dengatn kitabullah mengumpulkan hak dari orang-orang yang berkewajiban mengeluarkannya dan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerima. kemudian 'Umair melanjutkan: wahai Khalifah, mulai saat ini aku tidak ingin bekerja pada siapapun juga. sekembalinya 'Umair dari Majlis Umar, maka Khalifah Umar memerintahkan seseorang agar mengantarkan uang 100 Dinar sebagai hadiah kepada 'Umair. sesampainya di rumah 'Umair, diberikan uang itu, akan tetapi dengan keras 'Umair menolaknya, dan berkata: sesungguhnya aku memerintah Himsh lilahi ta'ala. akan tetapi ia dipanggil oleh istrinya yang menasehatinya dan berkata: ambillah uang itu dan sedekahkan niscaya engkau akan mendapatkan pahala yang berlipat. mendengar nasihat itu, 'Umair pun mengambilnya dan membagikannya kepada fakir, miskin, anak yatim dan para janda hingga tidak tersisa . Utusan 'Umar terkesan melihat apa yang dilakukan oleh 'Umair, orang yang sebenarnya sangat miskin ini, menjalankan roda kehidupan lilahi ta'ala? menolak untuk diberi hadiah berupa uang, padahal ia sangat memerlukannya, bahkan membagikannya sampai habis?

Sekembalinya Utusan tersebut maka ia menceritakan apa yang dilihatnya disana, dengan kagum dan terpesona mengingat sahabat yang teramat zuhud ini.

Amirah A. Nahrawi


....................................................................................................................................................................................

Labels: