Taubat


Tanda-Tanda Taubat

Seorang sahabatku dari negeri jiran menanyakan apakah tanda-tanda taubat seseorang itu diterima? sedangkan hidupnya sebelum ini penuh noda dan dosa? dan dia masih belum boleh berubah?

Jawabannya
Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat.artinya kembali kepada jalan yang telah ditentukan oleh Allah SAW dengan tidak mengulangi maksiatnya itu lagi. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya atau dengan kata lain adalah kesempatan yang telah di anugerahkan oleh Allah kepada kita agar menyesali apa yang telah diperbuat dan memperbaiki diri. sebagaimana firmanNya pada surah al-Baqarah #160 : "Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Nabi Muhammad SAW telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."

Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah #222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."
Dan firmanNya: surat Aali 'Imran #133, "Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwasanya ada seseorang yang telah membunuh 99 orang, kemudian ia ingin bertaubat namun ia tidak mengetahui apakah taubatnya akan diterima atau tidak? pergilah ia kepada seorang guru dan menceritakan hal tersebut, maka guru itu menjawab: taubatmu tidak akan diterima. karena kesal atas jawaban tersebut, iapun membunuh sang guru. kemudian pergilah dia menemui Ibnu Abbas dan menceritakan hal yang sama, Ibnu Abbas menjawab: bila kau ingin benar-benar bertaubat insya Allah akan diterima, karena sesungguhnya Allah menerima semua taubat hambaNya kecuali Syirik. orang tersebut pergi dengan lapang dada dan hati terbuka, berniat melakukan taubatnya di suatu masjid yang jauh jaraknya, dengan tergesa-gesa ia menuju masjid tersebut, akan tetapi tibalah ajalnya ditengah-tengah perjalanan. Malaikatpun bingung, dimanakah mereka akan membawanya? apakah ketempat orang-orang shaleh atau orang-orang fasiq-banyak dosa- lalu datanglah perintah Allah : bawalah hambaKu bersama orang-orang yang Shaleh, sebab ia berniat dengan sebenar-benarnya untuk bertaubat dan Aku telah menerima taubatnya.

Mengenai seseorang yang belum dapat meninggalkan maksiatnya itu, sebagaimana tadi disebutkan dalam pertanyaan diatas. maka ketahuilah bahwa bilamana ada niat yang tulus dan benar-benar ingin bertaubat maka pasti seluruh anggora tubuh akan bergerak membantu pelaksanaan taubat tersebut, jadi bilamana seseorang hanya berniat sekedar main-main atau tidak sungguh-sungguh maka seluruh anggota tubuh tidak akan bergerak membantu dalam pelaksanaannya. karena niat seseorang adalah yang kunci utama.

berikut adalah syarat-syarat agar diterimanya niat seseorang :
(1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa, dan (3) Bertekad untuk tidak mengulanginya.

Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan. Barang siapa yang tidak menyesal maka menunjukkan bahwa ia senang dengan perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukannya. Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan senang masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut? Hendaklah ia membangun tekad yang kuat di atas keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main-main.
Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak anak Adam, maka ada satu hal lagi yang harus ia lakukan, yakni dia harus meminta maaf kepada saudaranya yang bersangkutan, seperti minta diikhlaskan, mengembalikan atau mengganti suatu barang yang telah dia rusakkan atau curi dan sebagainya.

Namun apabila dosa tersebut berkaitan dengan ghibah (menggunjing), qodzaf (menuduh telah berzina) atau yang semisalnya, yang apabila saudara kita tadi belum mengetahuinya (bahwa dia telah dighibah atau dituduh), maka cukuplah bagi orang telah melakukannya tersebut untuk bertaubat kepada Allah, mengungkapkan kebaikan-kebaikan saudaranya tadi serta senantiasa mendo'akan kebaikan dan memintakan ampun untuk mereka. Sebab dikhawatirkan apabila orang tersebut diharuskan untuk berterus terang kepada saudaranya yang telah ia ghibah atau tuduh justru dapat menimbulkan peselisihan dan perpecahan diantara keduanya.

sekian, walahu a'lam

Amirah.A. Nahrawi



......................................................................................................................................................................................

Labels: