Keringanan Islam

قال الامام البخارى رحمة الله: حدثنا عبد السلام بن مطهر قال حدثنا عمر بن على عن معن بن محمد الغفارى عن سعيد بن أبى سعيد المقبرى عن ابى هريرة عن البنى صلى الله عليه وسلم : ان الدين يسر ولن يشاد الدين احد إلا غلبة فسددوا وقاربوا وابشروا واستعينو بالغدوة والروحة وشئ من الدلجة

Imam al-Bukhari berkata: diriwayatkan oleh Abdus-Salam bin Muthhar berkata: diriwayatkan oleh Umar bin ‘Ali bin Mu’en bin Muhammad al-Ghafari dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqbari dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya agama ini adalah agama yang mudah, dan tidak seorangpun yang memberatkan agama ini, melainkan akan dikalahkan, karena itu kerjakanlah tugasmu dengan sebaik baiknya hampirilah puncaknya dan kuatkan dirimu dengan waktu pagi, petang dan malam – untuk beribadah- .


Keterangan Rawi
1/ Abdus-Salam bin Muthahhar bin Husam al-Azdi al-Badshri Abu Zafar: ia meriwayatkan hadits dari Syu’bah dan lainnya dan hatitsnya banyak diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Daud, Abu Zur’ah dan Abu Hatem. Wafat pada tahun 224H.

2/ ‘Umar bin ‘Ali bin Atha bin Muqaddam Abu Hafash al-Bishri: Haditsnya diriwayatkan oleh anaknya Hisyam dan ‘Amru . wafat pada tahun 190 H.

3/ Ma’n bin Muhammad bin Ma’n al-Ghifari al-Hijazi: haditsnya banyak diriwayatkan oleh ibnu Juraij, Tirmidzi, an-Nassai, Muslim dan Ibnu Majah

4/ Sa’id bin Abi Sa’d al-Maqbuli al-Madani Abu Sa’d: banyak meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat, akan tetapi haditsnya dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah adalah hadits yang Mursal. Ia mengalami kurang ingatan – pikun- empat tahun sebelum wafatnya. Wafat pada tahun 125H

5/ Abu Hurairah :

Keterangan Teks
Hal pertama yang dapat menarik perhatian kita dalam hadits ini adalah sabda rasulullah SAW bahw agama Islam ini adalah agama yang ringan dan mudah. Perkataan tadi adalah salah satu filsafat islam yang murni, islam berdiri atas dasar ringan meringankan dan mudah memudahkan. Salah besar orang-orang yang mengklaim Islam sebagai agama yang berat dan menyusahkan penganutnya. Selain hadits ini, banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan hal yang sama, diantaranya adalah firman Allah SWT :
يريد الله بكم اليسر ولايريد بكم العسر
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesusahan bagimu.(QS al-Baqarah # 185)
لاتكلف نفسا إلا وسعها
Tidak ada seseorang yang akan dibebankan melainkan selaras dengan kesanggupannya- dengan apa yang telah dibebankannya (QS al-Baqarah # 222)
لا يكلف الله نفسا إلا وسعها
Allah tidak membebankan seseorang melainkan menurut kesanggupannya itu (QS al-Baqarah # 286)
لا تكلف نفسا إلا وسعها
Tidak ada seseorang yang akan dibebankan melainkan selaras dengan kesanggupannya- dengan apa yang telah dibebankannya (QS Ali ‘Imraan # 125)

Dan untuk membuktikan sampai seberapa jauh kebenaran hal ini, maka marilah kita tinjau kandungan hadits ini:
1/ Dimanakah kesukaran dalam mengucapkan dua kaliamat syahadat? Jawabannya pasti tidak ada kesukaran yang berarti dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. Kecuali yang berhubungan dengan Kehendak Allah SWT.

2/ Dimanakah kesukaran dalam mengerjakan shalat lima waktu? Jawabannya pasti tidak ada, paling lama shalat yaitu empat rak’at dan waktunya tidak mencapai lima menit, maka dimanakah kesukaran yang dapat ditemukan dalam pelaksanaannya? Bila dikatakan berat, maka marilah kita bandingkan dengan menghisap rokok yang memakan waktu 5-7 menit? Main remi atau domino yang memakan waktu minimal 1 jam, dan menonton film yang memakan waktu 1-2 jam. Manakah yang lebih berat dan mengikat? Pada hakekatnya, bukanlah pekerjaan tersebut yang berat, akan tetapi melawan hawa nafsu dan godaan itulah yang berat, hal demikian pula adalah ujian dari Allah SWT agar membedakan mana diantara hambanya yang ta’at dan yang tidak. Untuk mengetahui masuk dan keluarnya waktu shalatpun tidak sukar, bahkan dapat diperaktekan oleh siapapun dan tidak pula memerlukan ilmu apapun agar dapat menguasai masuk dan keluarnya waktu shalat. Bukankah hal ini membuktikan kemudahan dan bukan kesukaran? Sama halnya dengan ibadah yang lainnya, seperti zakat, puasa, dan haji. Ketiga rukun islam inipun tidak mengandung kesukaran, karena ketiganya bersandarkan kepada kesanggupan seseorang untuk mengerjakannya.bila dapat dikerjakan Alhamdulillah namun bila tidak sanggup tidak menjadi penghalang bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada sang Pemurah. Hal ini tentu berlainan dengan shalat dimana shalat harus dikerjakan bagaimanapun keadaan seseorang, artinya bila seseorang tidak sanggu[ berdiri, maka duduk, atau tidak sanggup duduk maka berbaring, bukankah hal ini merupakan bukti yang lainnya dari keringanan Islam?

3/ diatakan bahwa orang yang memberatkan atau memandang islam sebaai agama yang berat niscaya akan dikalahkan, artinya bahwa seseorang bila memberatkan dirinya dengan hal-hal diluar kesanggupannya maka ia meninggalkan hal tersebut, sebab ia tidak sanggup meneruskannya. Bukankah amat disayangkan hal semacam ini? Sedangkan amal ibadah yang paling baik adalah yang teratur dan terus menerus?

4/ (Saddidu) yang artinya luruskan, bukakan, dan tetapkan. Luruskan ibadah kalian agar menjadi baik dan bukalah hati kalian lilahita’ala dan tetapkanlah keimanan dan segala hal dalam dunia ini hanya karena mengharapkan ridho dan cintaNya, niscaya seluruh hidup kalian akan berubah dari yang jelek menjadi baik dan dari yang baik menjadi lebih baik sehingga mencapai derajat terbaik disisiNya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين Dan mereka tidak diperintahkan melainkan agar beribadah kepada Allah dengan tulus dan ikhlas kepadaNya (QS: al-Bayinah # 5)

5/ (Qarribu) yang artinya dekatkan, hampiri, dan yakini. Maksudnya bila kalian tidak dapat mencapai puncak ibadah, maka dekatkanlah dan berusaha untuk mencapainya, karena itu rasulullah SAW tidak menyuruh kita untuk mencapai puncak, karena pengetahuannya akan kelemahan manusia, akan tetapi yang ditegaskan adalah dekatkanlah dan berusahalah untuk mencapainya.

6/ (Wa Absyiru) gembiralah, kaliamat ini mengandung motivasi yang teramat tinggi, karena bila seseorang mengerjakan suatu ibadah dengan mengetahui bahwa apa yang dikerjakannya itu akan mendapatkan ridha Allah dan pahala yang besar maka hatinya akan terdorong untuk selalu mengerjakan ibadah itu. Sebagaimana firman Allah SWT: وابشروا بالجنة التى كنتم توعدون Bergembiralah kalian dengan surga yang dijanjikan Allah untuk kalian – sebagai imbalan atas amal baik kalian selama didunia –

7/ (Wasta’inu bil Ghadwati war Rauhah) dan ambillah bantuan di waktu pagi dan petang dan sebagian dari akhir malam dalam mengerjakan ibadah – Shalat – karena waktu itulah yang paling baik, segar, tenang dan membantu orang dalam melaksanakan ibadah.

Sekian, walahu a’lam


Alm. KH. A. Nahrawi


Labels: