Bersentuhan lawan jenis

Dalam masalah hukum wudhu, menyentuh wanita bagi seorang laki-laki menjadi masalah yang diperdebatkan oleh alim ulama.

Berikut ini adalah ayat yang menerangkan tentang batalnya wudhu bila menyentuh perempuan, akan tetapi ayat tersebut tidak menjelaskan menyentuh macam apakah yang membatalkan?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (QS. An-Nisa: 23)

Oleha karena ayat diatas hanya memberikan garis besar tentang salah satu pemyebab batalnya wudhu, maka para ulama berijtihad untuk mengemukakan yang terbaik.

Al-Malikiyah dan al-Hanafiyah: mengatakan bahwa sekedar menyentuh secara fisik - kulit dengan kulit - tidak membatalkan wudhu, kecuali bila sentuhan itu dibarengi dengan syahwat maka barulah sentuhan itu membatalkan wudhu.

pendapat mereka bersandarkan kepada hadits Dari Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah ra dari Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian isterinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu ”. Lalu ditanya kepada Aisyah, ”Siapakah isteri yang dimaksud kecuali anda?”. Lalu Aisyah tertawa.(HR Turmuzi Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

tentunya hadits ini menerangkan bahwa mencium istri tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu. oleh karena itu, pendapat ini banyak didukung oleh sahabat rasulullah SAW.

As-Syafi`iyah: mengartikan kata MENYENTUH secara harfiyah, sehingga menurut mereka sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu membatalkan wudhu .

Menurut mereka, bila ada kata yang mengandung dua maknahakiki dan kiasan, maka yang harus didahulukan adalah makna hakikinya. Kecuali ada dalil lain yang menunjukkan agar menggunakan penafsiran secara kiasan. sehingga Asy-Syafi`i tidak menerima hadits di atas dalam masalah mencium.

Namun bila ditinjau lebih dalam pendapat-pendapat di kalangan ulama Syafi`iyah, maka kita juga menemukan beberapa perbedaan. Misalnya, sebagian mereka mengatakan bahwa yang batal wudhunya adalah yang sengaja menyentuh, sedangkan yang tersentuh tapi tidak sengaja menyentuh, maka tidak batal wudhunya.

Pendapat lain : mengatakan bahwa yang dimaksud dengan MENYENTUH adalah berjima' (hubungan suami istri). Sehingga bila hanya sekedar bersentuhan kulit, tidak membatalkan wudhu .

Pendapat lain : mengambil makna MENYENTUH secara harfiya sama halnya dengan asy-Syafi'iyah, akan tetapi mereka membedakan antara sentuhan dengan lawan jenis non mahram dengan pasangan (suami isteri). Menurut mereka, bila sentuhan itu antara suami isteri tidak membatalkan wudhu`.

Adanya perbedaan antara para ulama tidaklah menjadi masalah karena rasulullah SWT bersabda :
sesungguhnya perbedaan pendapat antara umatku adalah rahmat dari Allah.(HR Bukhari)

Sebab itu, sepatutnya kita tidak mencela, menyalahkan ataupun merendahkan pendapat lain sekiranya tidak sesuai dengan pendapat kita.


sekian walahu A'lam

Amirah A. Nahrawi


Labels: ,