Hak dan Kewajiban wanita dalam Islam

Hak dan kewajiban wanita dalam Islam
Para Hadirat yang saya hormati;
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Segala sesuatu ada penyebabnya, begitupulalah pertemuan kita ini yang disebabkan peran utama dan partisipasi penuh oleh ketua Persatuan wanita Indonesia di Damaskus yaitu ibu Ubani, maka karena itulah izinkanlah saya untuk mengucapkan banyak terimakasih kepada beliau, dengan harapan pertemuan kita ini dapat terlaksana dengan baik dan berlanjut dalam ridho dan ta'at kepada Allah SWT.
Dalam pertemuan ini, saya akan membahas masalah
HAK DAN KEWAJIBAN WANITA DALAM ISLAM, dan sebagaimana diketahui bahwa pembahasan dalam masalah ini adalah pembahasan yang rumit dan cukup menarik bagi kaum wanita dan kaum laki-laki sekaligus.

Sebagai pembicara dalam confrensi ini, saya akui bahwasanya saya tidaklah memiliki ilmu lebih dan bukanlah seorang ahli dalam bidang ini, dan yang membuat saya tertarik untuk membahas topik tersebut adalah keyakinan saya bahwa diantara para hadirat ada yang lebih pintar dalam pembahasan topik ini, lebih cermat, lebih teliti dan mendalam dalam menguraikannya, lebih lembut dalam tata bahasanya. Maka beliau akan memberitahukan kepadaku hal-hal yang belum saya ketahui, dan menunjukan kepadaku hal-hal yang belum saya perhatikan. karena hal tersebut diatas, maka saya memberanikan diri dan bertawakal kepada Allah SWT sebagaimana firman Allah:
فإذا عزمت فتوكل على الله
Artinya: Jika engkau (Muhammad) sudah berbulat tekad untuk melakukan sesuatu maka bertawakallah kepada Allah SWT.

Dan dalam ayat lain Allah SWT berfirman :
إن الله يحب المتوكلين
Artinya : Sesungguhnya Allah mencintai/menyenangi orang-orang yang bertawakal kepadanya.

Dan satu hal yang perlu diingat bahwasanya saya menganggap diri saya sebagai murid / pelajar dan para hadirat sekalian sebagai guru saya.

Sekiranya kita tidak berpanjang lebar dan langsung masuk pada Topik pembahasan kita yaitu HAK DAN KEWAJIBAN WANITA DALAM ISLAM

Dalam menelusuri topik pembahasan ini, perlu diingat bahwasanya pembahasan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1- Hak dan kewajiban (dapat disebut sebagai pembahasan)
2- Wanita (dapat disebut titik/pokok pembahasan)
3- Islam (dapat disebut sebagai kacamata yang dipergunakan dalam pembahasan tsb)

Bagian ketiga ini, adalah pangkal pembahasan yang tidak dapat diabaikan atau dilupakan.

Marilah kita bahas/garap bagian demi bagian secara global tanpa mendalami atau meneliti hal-hal yang mungkin akan membawa kita kepada banyak cabang yang tidak bermanfaat.

1- HAK DAN KEWAJIBAN
Hak dan kewajiban disebut sebagai kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, maka ketika salah satu dari mereka membesar maka yang satunya ikut membesar pula dan sebaliknya.

Pangkal terlahirnya hak dan kewajiban adanya tanggung jawab dan bilamana adanya tanggung jawab maka terlahirlah hak dan kewajiban sesuai dengan tanggung jawabnya tersebut, akan tetapi bilamana tidak ada tanggung jawab, maka hak dan kewajiban tidak akan ada pula.

Pangkal terlahirnya tanggung jawab yaitu agama Islam, Islam memberikan tanggung jawab kepada setiap orang menurut kemampuannya masing-masing sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT Surah Al-Baqarah ayat 134 dan 141 :

لها ما كسبت ولكم ما كسبتم ولا تسئلون عما كانوا يعملون

Artinya: Untuk merekalah kembali amal perbuatan mereka dan untuk kalian kembali amal perbuatan kalian dan tidak akan kalian ditanyakan / diminta pertanggung jawaban atas perbuatan yang telah mereka buat.

Dan firman Allah SWT Surah Ashshaffat ayat 24
وقفوهم انهم مسئولون
Artinya: Dan berhentikanlah mereka sesungguhnya mereka akan ditanyakan/ diminta pertanggung jawaban atas yang telah mereka lakukan

Dan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh ibnu Umar ra berkata, Rasulullah SWA bersabda:

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالامام راع ومسؤول عن رعيته والرجل راع في أهله ومسؤول عن رعيته والمرأة راعية في بيت زوجها ومسؤوله عن رعيتها والخادم راع في مال سيده وهو مسؤول عن رعيته. ألا فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته .. متفق عليه

Artinya: Kalian semua adalah penanggung jawab dan bertanggung jawab atas tanggungan kalian, Imam adalah penanggung jawab dan bertanggung jawab atas tanggungannya, laki-laki adalah penanggung jawab atas tanggungannya dan keluarganya dan bertanggung jawab atas tanggunngannya tersebut, wanita adalah penanggung jawab dalam rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas tanggungannya tersebut, pesuruh adalah penanggung jawab dalam harta majikannya/atasannya dan bertanggung jawab atas hal tersebut. Maka kalian adalah penanggung jawab dan bertanggung jawab atas tanggungannya tersebut …….disepakati

Pastilah hadirat yang saya muliakan mengetahui bahwa sebutan bagi Wanita yang biasa diumpamakan sebagai jenis lembut, dan laki-laki biasa disebut sebagai jenis kasar dalam bahasa arab.

Kondisi atau biasa disebut sebagai status wanita dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
• status gadis/ belum menikah
• status istri/ sudah menikah
• status janda dengan dua hal:
- Janda hidup atau janda karena perceraian
- Janda mati atau janda karena kematian suaminya

Dan dalam segala keadaan wanita menjadi ibu, nenek atau bahkan tidak keduanya, dan jelaslah bahwa hak dan kewajibannyapun berbeda-beda.

Islam datang sebagai pengatur atau dengan kata lain sebagai otak elektronik yang memenej dan mengatur segala hak dan kewajiban dalam kehidupan ini.

Islam adalah agama Fitrah bagi seluruh Umat manusia dimuka bumi ini, yang telah dibawa oleh junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW, maka berbahagialah orang-orang yang memegangnya dengan teguh dan menjalani peraturannya dengan baik dan celakalah orang-orang yang meninggalkannya dan mendustakan atau menyelewengkan ajarannya.

Islam memiliki peraturan yang saling berhubungan bagaikan bangunan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, apabila terjadi kebocoran atau kerusakan pada salah satu peraturannya maka secara otomatis bangunan tersebut akan mengalami gangguan pada system tersebut yang harus dengan segera diperbaiki.

Islam adalah agama kebebasan, keadilan, kesamaan derajat, sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Baqarah ayat 256 :

لا اكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي

Artinya: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat.

Dan perkataan Khalifah Umar RA yang patut diingat:
إلى متى استعبدتم الناس وقد ولدتهم أمهاتهم احرارا

Artinya: Sampai kapankah kalian akan memperbudak manusia sedangkan ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan bebas tanpa ikatan

Dan dalam surah Al-Hujrat ayat 13 Allah SWT berfirman:
إن اكرمكم عند الله اتقاكم

Artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang bertaqwa kepada Allah swt


Dan Dalam Hadits, Rasulullah SAW menekankan:
لافرق بين عربي وعجمي إلا بالتقوى

Artinya: Tidak ada perbedaan antara orang arab(yang berasal atau berbahasa arab) dengan orang non arab (yang berasal atau berbahasa non arab)kecuali dalam ketaqwaan mereka.

Dan Firman Allah SWT Surah An-Nisa ayat 58:

وإذا حكمتم بين الناس ان تحكموا بالعدل

Artinya: Dan apabila engkau menetapkan hukum antara manusia hendaklah engkau berlaku adil

Dan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:

لو كانت فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها

Artinya: Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya akan saya potong tangannya.

Islam adalah agama Fitrah (kemurnian), kebaikan, kebajikan,dan akhlaq yang mulia yang dapat dibuktikan oleh firman Allah swt surat Ar-Rum ayat 30:

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التى فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر النا لا يعلمون
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tiada perubahan pada fitrah Allah itulah fitrah yang lurus tapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.


Dan sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
انما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
Artinya: Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan /melengkapi akhlaq yang mulia.

'Aisyah ummul Mu'minin ٌRA berkata:
كان رسول الله احسن الناس خلقا وخلقا وكان خلقه القرآن

Artinya: Rasulullah SAW adalah orang yang paling bagus ciptaannya dan akhlaqnya, dan sesungguhnya akhlaqnya adalah akhlaq Al-Qur'an.

Fitrah adalah: Sifat manusia yang biasanya ada pada manusia sewaktu lahir (sifat bawaan)..... Al-munjid

Kesimpulannya adalah:
1- Islam tidak mengakui adanya kezaliman, perpisahan/perpecahan, kecuali jika perpisahan atau perpecahan tersebut diakibatkan oleh perbedaan dalam fitrah.
2- Islam tidak mengakui setiap kemerdekaan/kebebasan yangh bertentangan dengan akhlaq dan fitrah manusia dan kebiasaan umum yang berlaku.


Patut diingat bahwasanya Islam sangat mementingkan dan mengangkat wanita beserta urusannya, agar selalu menjaga keanggungannya dan kesuciaanya serta kamuliaannya. Sebagaimana diterangkan dalam surah-surah yang dibawah ini:
Al-Baqarah
Al-Nisa'
Al-Maidah
An-Nur
Al-Ahzab
Al-Mujadalah
Al-Mumtahana
Al-Talaq
Al-Tahrim

Yang keseluruhannya mengangkat serta membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan wanita.

Dan terdapat pula dua surah dalam Al-Qur'an yang diberi nama wanita yaitu:
Surat An-Nisa yang biasa disebut Aln-Nisa Al-Kubra (besar)
Surat At-Talaq yang biasanya disebut An-Nisa Ash-shoghra (kecil)

Pada hadirat yang saya hormati;
Setelah kami merancang langkah-langkah pembahasan yang akan dibahas dalam pertemuan kita ini, marilah kita memasuki pokok pembahasan tentang hak dan kewajiban wanita yang dapat ditinjau dari segala aspek yang dapat disimpulkan dalam dua bagian:

1) Aspek Ibadah
Adalah hubungan manusia dengan Penciptanya, tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab sendiri/ individual yang tidak dapat siapapun untuk ikut campur tangan dalam hal ini.

Dalam aspek ini, tidaklah ada perbedaan antara laki-laki dan wanita kecuali dalam beberapa hal kecil yang berbeda yang diakibatkan oleh perbedaan dalam penciptaan, bentuk dan fitrah, karena wanita merupakan manusia mukalaf layaknya seorang laki-laki. Dan betanggung jawab sebagaimana layaknya laki-laki.

Sebagaimana diterangkan dalam Firman Allah SWT surat Ghafer ayat 40
من عمل صالحا من ذكر او انثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة يرزقون فيها بغير حساب

Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebaikan dari laki-laki maupun wanita dan mereka sedang dalam keadaan beriman kepada Allah SWT merekan akan masuk surga dan mendapat reziqi didalamnya yang tidak terhitung.

Al-Zalzalah ayat 7-8
فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره
ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره
Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebaikan walau sekecil zarrah (atom) ia akan melihat kebaikan

Dan kata (من) dalam bahasa Arab adalah Isim Mausul menerangkan bahwa yang ditujukan adalah laki-laki dan wanita.


2) Aspek Muamalat dan hubungan sosial
Hubungan manusia biasanya berkembanga mengikuti keadaan dalam lingkungan serta hubungan mereka masing-masing dengan lingkungannya apakah hubungan individu maupun hubungan umum.

Disinilah tanggung jawab seorang wanita dapat diukur sesuai dengan besar kecilnya lingkaran pergaulannya, bilamana lingkungan ini membesar maka tanggung jawab akan besar pula dan jika lingkaran itu mengecil maka akan kecilpula tanggung jawab, dimana tanggung jawab tersebut berkaitan erat dengan hak dan kewajiban.

Lingkaran tersebut terbagi menjadi dua bagian:
1- Hubungan dalam masyarakat (hubungan Umum)
2- Hubungan pribadi (hubungan khusus)

Marilah kita bahas secara global tanpa masuk ke celah-celah yang tidak penting dalam pembahasan ini.

PERTAMA: Pada hubungan umum ini manusia laki-laki maupun wanita, tidak dibedakan dalam bagian ini, kecuali pada perbedaan dalam penciptaannya (Fitrahnya) dengan laki-laki , diantara hak-hak tersebut wanit memiliki hak-hak sebagai berikut:

Berhak untuk hidup
Islam datang dengan mengharamkan pertumpahan darah kecuali dengan sebab-sebab yang ditentukan, dimana Allah SWT mengharamkan mengubur bayi prempuan dalam keadaan hidup, sebagaimana kita ketahui hal tersebut adalah kebiasaan orang Arab Jahiliyah yang begitu kejam membunuh nyawa suci yang tidak berdosa ini.

Allah SWT menerangkan dalam Surat At-Takwir ayat 8 :
وإذا الموؤدة سئلت بأي ذنب قتلت
Artinya: Dan ketika bayi prempuan dikubur dalam keadaan hidup ditanya, karena dosa apakah mereka dibunuh.

Dan dalam Surat An-Nahl ayat 58 Allah SWT menerangkan keadaan mereka ketika diberitahukan bahwasanya dia melahirkan anak prempuan:
وإذا بشر أحدهم بالانثى ظل وجهه مسودا وهو كظيم
Artinya: Apabila seseorang dari mereka diberitahukan dengan berita kelahiran anak prempuan, maka hitamlah (merah tua) wajah dan dia sangat marah.

Berhak untuk belajar.
Belajarpun menjadi kewajiban bagi semua orang Islam, tidak dibedakan antara laki-laki dan wanita sebagaimana telah diterangkan oleh Rasulullah SAW
طلب العلم فريضة على كل مسلم ... ومسلمة في رواية أخرى
Artinya: Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim... muslimah pada riwayat yang berbeda.

Apabila kita kembali ke masa lalu maka akan kita temukan bahwasanya banyak wanita yang menjadi alimah dan mahir dalam pengetahuannya, sebagai contoh yang patut diingat dan dijunjung tinggi adalah 'Aisyah Ummul-Mu'minin RA, yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dan menjadi refrensi pada para mujtahid dan sahabat lainnya yang banyak bertanya dan mencari kejalasan dalam segi Fiqih, Hadis dll. Bahkan sahabat Rasulullah SAW sangat menghormati pendapat/nasehat beliau dalam berbagai masalah fiqih khususnya yang menyangkut masalah wanita.

Berhak memilik untuk memiliki barang dan memperlakukan yang dimiliki sebagaimana dikehendakinya sesuai dengan syari'at Islam.

Sebagai contoh yang tidak dapat dilupakan yaitu Khadijah Ummul-Mu'minin RA istri pertama Rasulullah SAW yang sangat terkenal pada masanya dengan harta kekayaan dan dagangannya, dan dialah pula yang mengatur segala hartanya tersebut sesuai yang dikehendakinya.

Sebagaimana kita ketaui bahwasanya Rasulullah SAW telah bekerja samanya semasa mudanya sebelum menikahinya.

Khadijah Ummul-Mu'minin RA terkenal dengan kesetiaanya, kesabarannya, ibu yang sangat mulia, ketegarannya dalam segala situasi yang dihadapinya.

Berhak untuk memba'iat dan dibay'at, memilih dan dipilih.

Sebagaimana diterangkan oleh Allah SWT dalam firmanNya surat Al-Mumtahana ayat 12:

يايها النبي إذا جاءك المؤمنات يبايعنك على ألا يشركن بالله شيئا ولا يسرقن ولايزنين ولا يقتلن أولادهن ولا يأتين ببهتان يفترينه بين ايديهن وارجلهن ولا يعصينك في معروف فبايعهن واستغفر لهن إن الله غفور رحيم.

Artinya: Hi Nabi, apabila datang kepadamu prempuan-prempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan membuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka(yaitu tidak mengadakan pengakuan-pengakuan adanya hubungan antara laki-laki dan prempuan sebperti tuduhan berzina, tuduhan bahwa anak si fulan bukanlah dari suaminya, dsb) dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Contoh yang patut diingat adalah 'Afra binti 'Ubaid yang datang bersama kaum Al-Hazrajin yaitu golongan yang datang pada Rasulullah SAW untuk membay'atnya pada Bai'atul 'Aqaba yang pertama.

Contoh lainnya ialah 'Aisyah binti Abu Bakar RA Ummul Mi'minin yang memimpin perang pada Waq'atul Jamal (656M) yang disebabkan oleh perbedaan dalam masalah politik.

Berhak mengungkapkan pendapat/pandangan tentang berbagai hal sesuai dengan syari'at Islam.

Wanita memiliki hak penuh sesuai dengan syari'at Islam untuk mengungkapkan pikirannya dan pendapatnmya tentang berbagai masalah yang dapat menghadangnya, sebagaimna diterangkan oleh firman Allah SWT surat Al-Mujadalah ayat 1 :

قد سمع الله قول التى تجادلك في زوجها وتشتكي إلى الله والله يسمع تحاوركما إن الله سميع بصير
Artinya: Allah telah mendengar perkataan wanita yang datang padamu (wahai Muhammad) bertanya kepadamu tentang keadaan suaminya, dan mengungkapkan isi hatinya kepada Allah dan Allah mendengar pembicaraan kalian, sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat.

Rasulullah SAW bersabda pula:
نعم النساء نساء الانصار لم يمنعهن الحياء ان يتفقهن في الدين

Artinya: sebaik-baiknya wanita adalah wanita kuam Anshar, dimana rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya masalah agama (khususnya tentang masalah wanita)

Dan banyak pula hak-hak yang tidak disebutkan satu persatu mengingat sempitnya waktu disini.
Inilah hak-hak yang telah diterangkan secara global, namun apakah kewajibannya itu?

Bagi seorang wanita banyaklah kewajiban yang harus dipenuhi dalam lungkungan islami yaitu:
Menjaga ajaran Islam yang mulia dan berakhlaq sesuai dengan akhlaq Islam dalam berbagai hal dalam kehidupannya, pergaulannya sesama muslim maupun non Muslim, tanpa takut kepada siapapun kecuali Allah SWT, karena sesungguhnya manusia tidak boleh mentaati sesama makhluq Allah dalam hal maksiat atau melanggar ketentuan agama.

Dan untuk mencapai tujuan tersebut maka diharuskan bagi seorang wanita untuk:
Pertama: Mentaati perintah agama dan menjauhi larangannya dan tidak melampaui hak orang lain sebagaimana orang lain tidak berhak untuk melampaui hak atau batasannya kepadanya.

Kedua: Menghormati ketentuan umum yang berlaku serta mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingannya sendiri.

Ketiga: Menolong/ menyerukan dalam kebaikan dan mencegah dari pada yang mungkar, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmanNya surat 'Al-Imron ayat 110:
كنتم خير أمة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر

Artinya: Kalian adalah sebaik-baiknya umat manusia yang dikeluarkan ke dunia menyerukan kepada

Demikianlah kilasan singkat tentang kewajiban seorang wanita tanpa terperinci , dalam segi politik, muamalat serta pergaulan antatr masyarakat. Maka apakah hak dalam masalah keluarga baik dalam segi perkawinan, perceraian, warisan, dan hal-hal yang mengyangkut ini semua.

Masalah tersebut mempunyai kepentingan dan derajat yang sama dengan masalah sebelumnya, dan untuk menjawab semua ini maka dapat dikatakan;

Bahwasanya ketika wanita menikah, maka wanita tersebut telah melangkah selangkah lebih maju memasuki dunia yang luasa dan beragam serta kehidupannya telah terikat dengan ikatan yang sangat suci dan kuat dimana ikatan tersebut menjadikan hubungan suami istri adalah hubungan yang sangat tertutup lagi sangat mulia, dan hal ini pastinya akan menimbulkan tanggung jawab yang mengakibatkan adanya hak dan kewajiban yang harus sama-sama dipenuhi.

Hubungan pernikahan merupakan titik pangkal/ awal permula tumbuhnya masyarakat yang sehat dalam budi pekerti dan kuat jasmani dan rohani, maka Islam datang mengatur kelancaran dan kesuksesan hubungan tersebut dengan hukum dan peraturan yang sangat ketat, adil dan terjamin dalam setiap permasalahannya.

Sebelum menelusiri lebih dalam tentang kajian ini, ingin saya tegaskan dan pastikan bahwasanya hubungan perkawinan yang digambarkan oleh orang-orang yang tidak memahami Islam secara benar, adalah sebagai hubungan yang menelan hak wanita dan menjadikannya sebagai budak/pembantu.

Tentu saja pandangan tersebut tidak dapat dibenarkan dan sangat pertentangan dengar ajaran Islam yang begitu mulia. Untuk membuktikan kekeliruan pandangan tersebut, maka kami sajikan beberapa bukti sebagai berikut:

Pertama: Islam telah menjadikan hubungan perkawinan sebagai hubungan yang suci dan ikatan yang berat , berlandaskan mahabah, mawadah, dan ridho serta menjadikan istri sebagai tempat berteduh dan tempat kembali untuk suami, dimana hal tersebut merupakan suatu kehormatan bagi kaum wanita sebagaimana diterangkan dalam Firman Allah SWT Surah Ar-Rum ayat 21
ومن أياته أن خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون

Artinya: Dan sebagai bukti kebesaran Allah Ia menciptakan darimu (dari tulang rusuk) pasanganmu untuk menjadi tempat kembalinya kamu kepadanya dan menjadikan diantara kalian mawadah wa rahmah, sesungguhnya pada hal tersebut terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau berfikir.

Kedua: Islam menjadikan akad nikah sebagai akad yang sangat suci dan berat, dan tidaklah seperti akad jual beli ataupun akad kontrak lain, bahkan bukan pula sebagai perbudakan yang dikenal pada masa jahiliyah sebelum masuknya agama Islam. Hal ini diterangkan oleh Firman Allah SWT Surat An-Nisa ayat 20
وأخذن منكم ميثاقا غليظا
Artinya: Dan sesungguhnya mereka (wanita) telah mengambil darimu (laki-laki) akad yang sangat sakral dan berat.

Dan berdasarkan ayat tersebut, maka seorang wanita berhak untuk meminta atau menuntut suaminya agar melaksanakan akad serta menepati janji yang telah mereka janjikan pada saat akad tersebut bilamana suaminya tidak berlaku sebagaimana mestinya sesuai dengan akad yang telah disepakati dan telah diambik darinya. Hal tersebut merupakan suatu kehormatan bagi kaum wanita lagipula suatu perlindungan yang telah diberikan olah Allah swt kepadanya.

Ketiga: Allah telah menjadikan wanita atau seorang istri sebagai amanah yang diamanatkan kepada laki-laki atau suami yang tidak patut disia-siakan olehnya begitu saja.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
اتقوا الله في النساء فانكم اخذتموهن بامانة الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف.... رواه مسلم

Artinya: Bertaqwalah kalian kepada Allah SWT dalam mempergauli istri-istri kalian karena sesungguhnya kalian telah mengambil dan menghalalkan kewanitaan mereka dengan kalimat Allah. Dan hak mereka atas kalian adalah memberi nafkah dan pakaian dengan sebaik-baiknya.

Sekarang, marilah kita beranjak untuk memasuki lingkup ini lebih dalam serta menerangkan dan menguraikan hak dan kewajiban masing-masing tanpa berpihak kepada salah satu pihak .

Bilaman kita umpamakan rumah tangga sebagai kafilah yang tengah berjalan ke gurun yang gelap dengan penuh hambatan dan rintangan yang terkadang tidak baiklah akibatnya.

Atau kita umpamakan sebagai perusahaan yang baru berkembang dimana memerlukan peraturan dan penataan yang lengkap dan menyeluruh, dan menerangkan tugas masing-masing agar perusahaan tersebut dapat berhalan dengan lancar dan kuart menghadapi hambatan dalam segala aspeknya.

Bila peraturan tersebut tidak ada, maka perusahaan tersebut akan berantakan dan simpang siur perjalanannya tanpa tujuan yang jelas dan pasti yang akan menghasilkan kehancuran bagi perusahaan itu sendiri.

Peraturan Islam dalam Rumah tangga
Siapakah yang menjadi kepala rumah tangga yang telah dipilih oleh Allah SWT, suami atau istri?
Apakah tugasnya?
Apakah cara yang harus ditempuh untuk memenuhi kewajibannya tersebut?

Jawabannya:
Suami adalah kepala rumah tangga dan pemimpin bagi rumah tangga yang telah dipilih oleh Allah SWT yang Maha Adil, Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang, dikarenakan poster laki-laki yang lebih kuat yang dibentuk sedemikian rupa agar dapat menjadi penanggung jawab dalam menafkahi keluarganya, sebagaimana Allah swt menerangkan dalam Surat An-Nisa ayat 55
الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما انفقوا من أموالهم

Artinya: Kaum laki-laki adalah pemimpin/ kepala rumah tangga atas perempuan dikarenakan penciptaannya dan pembentukannya dan dikarenakan pula nafkah yang mereka keluarkan untuk istri dan keluarganya.

Qawamah atau kepemimpinan yang diberikan Allah kepada kaum laki-laki tidaklah merupakan kekejaman ataupun kezaliman bagi kaum wanita, akan tetapi hal tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada kaum wanita, selain dikarenakan penciptaan laki-laki yang lebih kuat jasmani dan rohaninya dibanding penciptaan wanita yang lembut dan anggung dengan pembentukan jasmani yang lebih lemah juga dikarenakan biaya yang dikeluarkan oleh laki-laki agar dapat membiayai dan menafkahi istri dan keluarganya, serta dapat melaksanakan tugasnya dengan baik serta memenuhi kewajibannya atas mereka sesuai dengan akad yang telah diambil dari mereka.

Hal tersebut telah ditetapkan oleh Allah SWT yang Maha mengetahui kebaikan bagi umatNya dan menjadikannya sebagai ketentuan yang wajib diterima oleh setiap wanita mu'minah dengan senang hati dan mentaati pemimpinnya selama pemimpin tersebut tidak melanggar atau memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Allah swt, sebagaimana kita ketahui bahwasanya tiada taat bagi makhluk dalam melaksanakan larangan KhaliqNya.

Apakah tugas seorang pemimpin tersebut?
Rasulullah SAW telah menerangkan tugas seorang pemimpin dalam keluarga secara global dalam haditsnya yang berbunyi:
...... والرجل راع في أهله ومسئول عن رعيته

Artinya: ...... seorang laki-laki adalah penanggung jawab dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya itu.

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW menerangkan bahwasanya yang menjadi penanggung jawab penuh atas keluarga yaitu seorang laki-laki, karenanya seorang laki-laki harus berusaha dan bekerja keras sesuai dengan kemampuannya-karena Allah SWT tidak memaksakan manusia melebihi kemampuannya- demi membahagiakan istri dan anak-anaknya yaitu dengan menjaga mereka dari hal-hal buruk yang dapat menimpa mereka, sebagaimana diterangkan sebelumnya bahwasanya seorang wanita atau istri adalah amanat allah kepada kaum laki-laki atau suami .

Apakah cara yang harus ditempuh demi melaksanakan tugas tersebut?

Untuk dapat melaksanakan dan memenuhi tugasny dengan baik maka seorang pemimpin harus dibekali dengan kebaikan hati, ketabahan, kesabaran, kelembutan, selalu menjaga langkah dan bicaranya, selalu memaafkan, mempunyai logika yang sehat dan berpikir sebelum bertindak, selalu bermusyawarah dalam berbagai hal dengan anggora keluarganya, sebagaimana diterangkan oleh hadits Rasulullah SAW:

وامرهم شورى بينهم
Artinya: Dan urusan mereka adalah dengan musyawarah antara mereka.

Seorang pemimpin tidak diperbolehkan untuk menjadi diktator, kasar dalam sikap dan tutur kata, kikir dalam menafkahi keluarganya, dan lain sebagainya.
Seorang pemimpin tidak diperbolehkan pula untuk menjadi lemah dan menjadi kewanitaan, tidak memiliki pribadi yang tegas, dan sebagainya. Karena hal itu dapat mengakibatkan bencana bagi dirinya dan keluarganya yang dipimpinnya itu.

Seorang wanita selalu membutuhkan perhatian, penghargaan sebagai teman hidup, kasih sayang, dan yang terpenting seorang wanita butuh pula untuk merasakan bahwasanya dia ikut ambil bagian dalam membina dan menjalankan bahtra rumah tangga dan bertanggung jawab bersama suaminya.

Sebagai seorang istri, dia harus bekerja keras, mentaati dan menghormati suaminya, agar dapat terbina kebahagiaan dan ketenteraman dalam rumah tangga, pandai menempatkan diri dalam setiap keadaan, menjadi pengatur yang handal dalam menjalankan kepemimpinan suaminya, penuh kesetiaan dan pengorbanan, agar dapat terwujud rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah dan terjamin kesuksesan rumah tangganya.

Rasulullah SAW menerangkan dalam haditsny :
...... والمرأة راعية في بيت زوجها ومسئولة عن رعيتها
Artinya: Seorang wanita adalah penanggung jawab dirumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang ditanggungnya tersebut.

Apabila sepasang suami istri telah menjalankan ketentuan-ketentuan berumah tangga yang ditetapkan oleh Yang Maha Esa, dapat dijamain terciptanya keluarga sukses dipenuhi dengan kasih sayang, pengertian, serta kerjasama tanpa adanya hambatan yang berarti.


Keuangan dalam rumah tangga

Dalam pembahasan bagian ini, kami tidak akan menguraikannya secara mendetail, hanya akan kami ambil beberapa masalah seperti nafkah, harta warisan dsb, Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya bahwasanya wanita berhak memiliki suatu barang atau harta dan berhak pula untuk memenej uangnya sebagaimana dikehendakinya sesuai dengan Syari'at Islam , akan tetapi SIAPAKAH YANG DIWAJIBKAN MENAFKAHI KELUARGANYA? SUAMI ATAU ISTRI?

Islam datang sebagai penengah dan agama kebaikan bagi seluruh umat manusia sesuai dengan fitrah insaniah sejak penciptaan awal. Islam telah mewajibkan bagi seorang suami menafkahi dan membiayai keluarganya sebagaimana Islam telah menetapkan suami sebagai penanggung jawab penuh dan pemimpin bagi keluarganya dan seorang istri diberi hak menuntut atau meminta pertanggung jawaban tersebut bilamana suaminya lalai atau mengabaikan kewajibannya tersebut.



Rasulullah SAW bersabda:
اتقوا الله في النساء فانكم اخذتموهن بامانة الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف.... رواه مسلم

Artinya: Bertaqwalah kalian kepada Allah SWT dalam mempergauli istri-istri kalian karena sesungguhnya kalian telah mengambil menghalalkan kewanitaan mereka dengan kalimat Allah. Dan hak mereka atas kalian adalah memberi nafkah dan pakaian dengan sebaik-baiknya.

Akan tetapi Islam tidak menetapkan banyak sedikitnya nafkah yang harus dikeluarkan oleh suami karena islam membiarkan hal tersebut kepada kesanggupan suaminya. Maka sepatutnya seorang istri tidak meminta atau menuntut sesuatu diluar kesanggupan suaminya, dimana dapat menimbulkan ketidak seimbangan dalam rumah tangga hanya karena inging memenuhi keegoisannya dan menyenangkan dirinya ataupun membanggakan yang didapat kepada orang lain.

Demikianlah masalah nafkah dalam keluarga, kemudian kami beralih kepada masalah warisan.

Dalam masalah inipula Islam telah menetapkan bagian masing-masing suami istri agar tidak terjadi perselisihan dan fitnah setelah salah satu pasangan tersebut meninggal dunia yaitu sebagai berikut:

Istri 1- mendapat 1/4 (seperempat) dari total harta warisan bila tidak mempunyai anak
2- mendapat 1/8 (seperdelapan) dari total harta warisan bila mempunya anak

suami 1- mendapat 1/2 (setengah) dari total harta warisan bila tidak mempunyai anak
2- mendapat 1/4 (seperempat) dari total harta warisan bila mempunyai anak.

Sebagaimana diterangkan dalam Surat An-Nisa:
ولكم نصف ما ترك أزواجكم ان لم يكن لهن ولد فإن كان لهن ولد فلكم الربع مما تركن من بعد وصية يوصين بها أو دين ولهن الربع مما تركتم إن لم يكن لكم ولد فإن كان لكم ولد فلهن الثمن مما تركتم من بعد وصية توصون بها أو دين.

Artinya: Dan untuk kalian setengah dari harta warisan bilamana istri kalian tidak mempunyai anak dan bila istri kalian mempunyai anak maka bagian kalian seperempat setelah mengeluarkan wasiat atau hutang, dan bagi mereka (istrimu) seperempat dari harta warisan bilamana kalian tidak mempunyai anak, dan bila kalian mempunyai anak maka bagian mereka adalah seperdelapan dari harta warisan setelah mengeluarkan wasiat atau hutang.

Demikianlah pembahasan singkat ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

وبالله التوفيق والهداية والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Terjemah asli
Konfrensi wanita indonesia
Damaskus- syiria


Masalah

Sebagai hak asasi seorang istri adalah dinafkahi oleh suaminya, maka apabila sang suami hanya mendapat rezeqi yang cukup hanya untuk 1 (satu ) orang, maka orang yang berhak dinafkahi adalah istrinya.

Demikianlah ketentuan Allah SWT dalam mengatur rumah tangga, hal ini tidak bertentangan dengan balas budi, kasih sayang, dan ihsan yang diwajibkan Allah SWT atas seorang anak terhadap orangtuanya, akan tetapi Islam melihat keadaan ekonomi keluarga tanpa melibatkan pihak lain.

Hal terserbut diatas sangat adil bila dimengerti dan diamalkan secara benar sebagaimana diajarkan Islam kepada kita, agar dapat membangun rumah tangga yang utuh, sakinah , mawadah wa rahmah.

Demikian wallahu A'lam
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
_____________________________________________________________________________________
Pemberi materi: KH. Ahmad Nahrawi
Konferensi wanita Indonesia
Damaskus - Syiria 1969 M


المرحوم المغفور له إن شاء الله
الدكتور/ أحمد نحراوي عبد السلام
تغمده الله برحمته واسكنه فسيح جناته وجمعه مع الصديقين والانبياء والشهداء والصالحين وادخله أعلى مراتب جناته...... آمين

Labels: